UPDATEINDONESIA.ID — Kelompok Houthi menaikkan harga bensin dan solar sekitar 10 persen di wilayah Yaman yang mereka kuasai, kenaikan pertama dalam empat tahun terakhir. Keputusan itu diumumkan ketika 18 juta warga Yaman sudah menghadapi kerawanan pangan akut, sementara pertempuran yang kembali pecah memutus jalur distribusi barang antarkota.
Perusahaan Minyak Yaman yang dikendalikan Houthi menyatakan kenaikan harga bensin dan solar dipicu lonjakan harga bahan bakar global. Harga bensin naik dari 4.750 riyal Yaman (sekitar USD 8,90) menjadi 5.250 riyal (sekitar USD 9,80) per liter di wilayah kekuasaan Houthi, termasuk ibu kota Sanaa.
Pihak Houthi menjanjikan kenaikan itu bersifat sementara. Namun pengumuman tersebut langsung memicu kekhawatiran di kalangan warga yang selama bertahun-tahun bergulat dengan krisis ekonomi berkepanjangan.
Beban Baru bagi Warga Sanaa
Ahmed Yahya, sopir taksi berusia 28 tahun di Sanaa, menyebut kenaikan harga bahan bakar sebagai kejutan menyakitkan bagi masyarakat yang sudah terpuruk. Ia mengisi 10 liter bensin setiap pagi sebelum mulai bekerja mengantar penumpang.
"Saya memberi makan taksi saya dengan bahan bakar dulu supaya taksi ini bisa membantu memberi makan keluarga saya," kata Yahya, mengutip Al Jazeera.
Yahya mengaku pengeluaran keluarganya untuk pangan seperti tepung, beras, dan minyak goreng mencapai 75.000 riyal Yaman (sekitar USD 140) per bulan. Dengan kenaikan harga bahan bakar, kebutuhan yang sama diperkirakan membengkak menjadi 85.000 riyal (sekitar USD 159).
"Ketika harga naik, itu memengaruhi apa yang kami makan, minum, dan bagaimana kami hidup," ujarnya. Ia menyebut uang sewa rumah 25.000 riyal per bulan semakin sulit disisihkan. "Mana yang jadi prioritas? Sewa atau makan?"
Jalur Distribusi Terputus, Biaya Transportasi Melonjak
Kenaikan harga tidak hanya dipicu faktor global. Penguasaan Houthi atas pesisir selatan Laut Merah dari pasukan pemerintah pekan lalu, ditambah serangan terhadap Arab Saudi, turut mendorong lonjakan harga di dalam negeri.
Pertempuran yang kembali berkobar setelah empat tahun relatif tenang membuat para pengemudi truk menghindari jalur dekat garis depan. Perjalanan barang dari selatan ke utara Yaman kini memakan waktu hingga sepekan, padahal sebelumnya cukup tiga hari atau kurang.
"Ini berarti tidak ada keluarga yang kebal dari masalah ini," kata Saleh Abdullah, pemilik toko di Sanaa. Ia menyebut kenaikan biaya transportasi diteruskan ke konsumen, mulai dari tepung, susu bayi, buah, hingga sayuran.
Ibrahim Abdu, pegawai pos pemeriksaan bea cukai Nehm di Governorat Sanaa, melaporkan jumlah truk yang tiba di ibu kota menurun dalam beberapa pekan terakhir. "Pertempuran memutus banyak jalan, dan pedagang menghindari risiko terhadap barang dan pengemudi mereka," katanya.
Krisis Kemanusiaan yang Semakin Dalam
Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) pada April menyebut konflik internal Yaman menyebabkan kerentanan makroekonomi signifikan dan penurunan pendapatan per kapita. Lebih dari separuh populasi Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak.
IMF mencatat konflik tersebut memicu kerawanan pangan luas, wabah penyakit, pengungsian massal, dan akses terbatas ke air bersih. Sebanyak 18 juta warga Yaman saat ini menghadapi kerawanan pangan akut.
Ahmed Mohammed, mantan pekerja kemanusiaan di Hodeidah, menyebut kenaikan harga bahan bakar sebagai pengganda kelaparan di negara yang dilanda perang. Menurutnya, setiap kenaikan harga bahan bakar berdampak berantai pada harga pangan dan daya beli keluarga.
Pemerintah Yaman yang diakui internasional dan koalisi pimpinan Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi atas kenaikan harga tersebut. PBB sebelumnya memperingatkan bahwa pendanaan bantuan kemanusiaan untuk Yaman terus menyusut, sementara kebutuhan terus meningkat.
Warga Sanaa kini menunggu apakah janji Houthi bahwa kenaikan harga bersifat sementara akan terwujud. Tanpa perbaikan kondisi keamanan dan pemulihan jalur distribusi, harga pangan dan bahan bakar diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.