Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 18.027 per Dollar AS pada Selasa

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 18.027 per Dollar AS pada Selasa
Rupiah Terdepresiasi 30 Poin Ditutup pada Level Rp 18.027 per Dollar AS [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada pasar spot berakhir melemah pada penutupan perdagangan Selasa (4/8/2026). Rupiah terdepresiasi sebesar 30 poin atau 0,17 persen menuju posisi Rp 18.027 per dollar AS. Pergerakan melemah ini bergulir secara konsisten semenjak pembukaan sesi perdagangan. Rupiah sempat menyentuh kisaran Rp 18.024 per dollar AS.

Pengamat mata uang beserta komoditas Ibrahim Assuaibi mengutarakan, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah masih bertindak sebagai fokus perhatian utama para pelaku pasar. 

Berdasar pandangannya, sentimen tersebut mengemuka pasca Presiden AS Donald Trump menunda rencana penyerangan baru terhadap Iran sembari menunggu pergerakan langkah diplomatik.

“Presiden AS Donald Trump pada Minggu menyatakan dirinya menunda serangan baru terhadap Iran sembari menunggu perundingan yang sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik dan menyelesaikan sengketa terkait kendali atas Selat Hormuz yang strategis,” ujar Ibrahim.

Akan tetapi, pihak Iran menepis klaim tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan tidak ada agenda perundingan ataupun pertemuan yang dijadwalkan bersama pihak AS.

 Eskalasi kembali memanas pasca Iran mengancam bakal menargetkan armada kapal perang AS yang mencoba mengubah rute pelayaran di Selat Hormuz. 

Catatan data pelayaran turut memperlihatkan lalu lintas armada di Selat Hormuz melambat pascamunculnya kabar mengenai penyerangan kapal di area tersebut.

Di samping dinamika geopolitik, pergerakan pasar turut mencermati sederet indikator ekonomi global. Berdasar penuturan Ibrahim, indeks manajer pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur pada periode Juli merangkak naik dari posisi 53,3 menuju 55,6. Capaian tersebut melampaui proyeksi pasar yang berada di level 54. 

Ia menganggap data tersebut mencerminkan tingkat permintaan yang bertahan kuat, membaiknya kepastian terkait regulasi tarif, serta meredanya hambatan pada rantai pasok.

Fokus perhatian investor berikutnya mengarah pada data lowongan kerja JOLTS yang dijadwalkan rilis pada pukul 21.00 WIB. Sepanjang pekan ini, perhatian pasar juga tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Non Farm Payroll (NFP) AS yang bakal diumumkan pada hari Jumat.

Melihat kondisi dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia menderita defisit senilai 450 juta dollar AS pada Juni 2026. 

Tekanan defisit tersebut dipicu oleh sektor migas yang membukukan defisit 3,49 miliar dollar AS, terkhusus dari impor hasil minyak beserta minyak mentah. 

Capaian ekspor Indonesia pada Juni tercatat sebesar 25,46 miliar dollar AS, lebih rendah disandingkan angka impor yang menyentuh 25,91 miliar dollar AS.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tercatat berada di angka 145 miliar dollar AS. Penyusutan cadangan devisa tersebut dipengaruhi kebutuhan untuk merawat stabilitas nilai tukar rupiah serta penyelesaian pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Kendati demikian, Ibrahim menilai posisi angka tersebut masih berada dalam batas aman lantaran setara dengan pembiayaan kurun waktu sekitar 5,4 bulan impor, melampaui tolok ukur kecukupan internasional di kisaran tiga bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.

Para pelaku pasar turut menanti rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II 2026 pada hari Rabu. Pihak pemerintah memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi bakal melambat disandingkan kuartal sebelumnya. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menaksir ekonomi bakal tumbuh mendekati 5,4 persen. Berdasarkan sudut pandang pemerintah, perlambatan tersebut dipengaruhi tingginya patokan harga minyak mentah, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta maraknya arus modal keluar dari pasar keuangan domestik.

Guna menopang laju pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026, pihak pemerintah menyiapkan paket stimulus baru, mencakup insentif bagi kendaraan listrik berbasis baterai.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index