Kenaikan Harga Minyak Global Buat Rupiah Melemah pada Selasa Pagi

Kenaikan Harga Minyak Global Buat Rupiah Melemah pada Selasa Pagi
Rupiah Melemah ke Rp18.029 per Dolar AS Tertekan Kenaikan Harga Minyak [FOTO: NET].

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada Selasa pagi terperosok melemah 32 poin atau 0,18 persen menuju level Rp18.029 per dolar AS jika dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.997 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengutarakan bahwasanya tekanan pada rupiah dipicu oleh naiknya harga minyak dunia.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp17.980-Rp18.140 per dolar, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak. Kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang melebar ke sisi produksi kilang minyak,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Berdasarkan laporan Kantor Berita Anadolu, grafik harga minyak Brent melonjak hingga kisaran 25 persen sepanjang Juli 2026 pascamunculnya konflik anyar antara AS dan Iran yang membuyarkan kesepakatan damai sementara serta memperparah krisis pasokan energi, membentang dari Selat Hormuz sampai Laut Merah.

Di satu sisi, memanasnya konflik tersebut memantik kekhawatiran terkait kelancaran distribusi minyak mentah beserta produk turunannya, sehingga mendongkrak kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.

Akan tetapi, pada hari Senin (3/7/2026), harga minyak merosot melebihi 5 persen usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwasanya negosiasi damai bersama Iran bakal dilanjutkan, disertai keputusannya membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran.

Patokan harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional terkoreksi ke kisaran 83,40 dolar AS per barel (sekitar Rp1,5 juta) pada Senin pukul 06.05 GMT (13.05 WIB).

Pada saat bersamaan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi tolok ukur AS turut merosot 6 persen menuju 79,60 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel.

Menjelang hari ini, harga minyak Brent kembali merangkak naik melampaui 84 dolar AS per barel dari posisi penutupan sebelumnya di kisaran 83 dolar AS per barel.

Faktor sentimen lain yang membayangi rupiah dipengaruhi oleh kecemasan para investor terhadap berlanjutnya defisit neraca perdagangan Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwasanya pada periode Juni, Neraca Perdagangan Indonesia mengalami defisit mencapai 450 juta dolar AS, dengan rincian perolehan ekspor senilai 25,46 miliar dolar AS serta akumulasi impor sebesar 25,91 miliar dolar AS.

“Surplus neraca perdagangan sangat signifikan mempengaruhi penguatan rupiah, sementara capital inflow di pasar keuangan saham dan obligasi sangat volatile. Adapun saat ini neraca perdagangan mengalami defisit karena surplus non migas terus menyusut dan defisit migas terus meningkat,” ungkap Rully.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index