JAKARTA - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mematok target agar provinsinya mampu menjadi produsen listrik terbesar di Tanah Air melalui akselerasi pembangunan pembangkit energi terbarukan, salah satunya lewat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Kabupaten Bandung.
Menurut penuturan Dedi, keberadaan PSEL Legok Nangka tak sebatas memberikan solusi bagi permasalahan sampah, melainkan juga bertindak sebagai pemicu terciptanya mekanisme pengelolaan sampah modern yang memproduksi energi bersih secara berkelanjutan.
"Nah, ini akan menjadi salah satu alat pemicu untuk membangun sebuah sistem pengolahan sampah yang modern," ujar Dedi saat groundbreaking PSEL Legok Nangka dan penandatanganan kerja sama pengembangan waste to energy Jawa Barat di Kabupaten Bandung, Rabu (30/7/2026).
Ia menyampaikan, penanganan sampah modern turut diharapkan dapat membentuk kedisiplinan masyarakat yang lebih baik, mendongkrak kualitas lingkungan, sekaligus memperkokoh ketahanan energi di tingkat daerah.
"Yang kemudian juga meningkatkan kualitas udara serta meningkatkan kualitas lingkungan. Dan yang berikutnya adalah Jawa Barat akan menjadi provinsi penghasil energi listrik terbesar di Indonesia," kata Dedi.
Berdasarkan penjelasannya, pengerjaan PSEL Legok Nangka merupakan kelanjutan dari konsep pemerintah provinsi periode sebelumnya yang kini resmi menginjak fase konstruksi usai melengkapi segenap prasyarat investasi maupun aturan hukum.
Dedi mengungkapkan realisasi proyek tersebut akhirnya dapat dieksekusi setelah mengantongi kepastian pemodal, rekomendasi resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta penetapan harga jual listrik yang menjamin kelayakan iklim investasi.
Ia menuturkan, Jawa Barat sejatinya telah dibekali beragam infrastruktur pembangkit energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan panas bumi (geothermal). Ke depan, daya tampung tersebut bakal dilipatgandakan lewat pembangunan sarana PSEL di pelbagai wilayah.
"Pembangkitan ada berapa? Pembangkit listrik tenaga surya ada berapa? Geothermal ada berapa? Ditambah lagi pembangkit listrik tenaga sampah yang paling banyak nanti di Jabar," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat membidik pembangunan PSEL tidak cuma terpusat di kawasan Bandung Raya, melainkan juga menjangkau Garut, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, hingga wilayah Cirebon untuk menguatkan penanganan sampah secara regional sekaligus menyuplai pasokan energi terbarukan.
Pada momentum yang sama, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menerangkan bahwa PSEL Legok Nangka diproyeksikan mengantongi kapasitas pembangkit sebesar 40,79 megawatt (MW) dengan menyerap nilai investasi mencapai 400 juta dollar AS atau berkisar Rp7,2 triliun.
Infrastruktur tersebut diperkirakan memerlukan durasi pengerjaan fisik selama 41 bulan dan ditargetkan siap beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada tahun 2029. Sepanjang masa pembangunan, agenda ini diproyeksikan bakal menyerap sekitar 1.565 tenaga kerja.
Selain memproduksi daya listrik dari pengolahan limbah, PSEL Legok Nangka diperhitungkan mampu menekan tingkat emisi gas rumah kaca hingga 311.874 ton CO? ekuivalen, sehingga sejalan dengan target transisi energi serta pengurangan emisi nasional.
Pemerintah juga telah memperkokoh payung hukum pengembangan proyek waste to energy melalui keberadaan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Sebagai bentuk tindak lanjut, Kementerian ESDM menyalurkan kelancaran perizinan bagi operasional PSEL, bioenergi, serta bahan bakar minyak terbarukan, sekaligus memasukkan agenda pengembangan PSEL berkapasitas total 452,7 MW ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).