El Nino Tekan Produksi Pangan, RI Berpacu Jaga Swasembada Pangan

El Nino Tekan Produksi Pangan, RI Berpacu Jaga Swasembada Pangan
Musim Kemarau dan El Nino Tekan Produksi Pangan Nasional [FOTO: NET].

JAKARTA — Target swasembada pangan pemerintah mulai diterpa tantangan baru seiring kian meluasnya musim kemarau di pelbagai wilayah Indonesia.

Ancaman El Nino yang memicu musim kemarau lebih kering dan panjang mulai menekan produktivitas sejumlah komoditas pertanian, sementara pemerintah berpacu mempercepat pelbagai langkah mitigasi supaya penurunan produksi tidak berujung pada gejolak harga pangan.

Musim kemarau yang kian panjang tak sekadar menjadi ujian bagi para petani, melainkan juga menguji efektivitas pelbagai program peningkatan produksi yang selama ini dijalankan pemerintah.

Di tengah langkah memperluas areal tanam, memperkuat cadangan pangan, hingga mendorong swasembada pelbagai komoditas, ketersediaan pasokan air kini menjadi faktor penentu keberhasilan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 72,8% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga Dasarian II Juli 2026.

Curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 92,93% wilayah, sedangkan hujan dengan sifat di bawah normal menyentuh 89,97%.

Kondisi tersebut mulai memicu kekeringan di beberapa daerah serta mendongkrak risiko kebakaran hutan dan lahan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sampai Sulawesi Selatan.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mengantisipasi keterbatasan pasokan air sekaligus mengerek kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

Produktivitas Mulai Tertekan

Dampak musim kemarau sendiri mulai dialami pelaku usaha pertanian, terutama di sektor tebu.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen menyampaikan persoalan utama yang kini dihadapi petani bukan lagi ketersediaan bibit, melainkan pasokan air demi menopang pertumbuhan tanaman.

"Bibit sudah tercukupi. Selanjutnya airnya bagaimana? Seluruh makhluk hidup kebutuhan utamanya adalah air," ujarnya kepada Bisnis.

Berdasarkan penuturan Soemitro, gejala penurunan produksi sudah mulai terlihat di lapangan. Sebagian tanaman tebu mengalami kekeringan sehingga berpotensi menurunkan hasil panen pada musim giling tahun ini.

"Bahkan sudah ada tebu yang daunnya kering. Dari situ saja sudah jelas produksinya tahun ini turun," katanya.

Ia menilai peluang mengerek produktivitas dalam kurun waktu singkat sudah kian mengecil lantaran sebagian besar tanaman telah memasuki fase menjelang panen.

"Kalau sekarang mau menaikkan hasil panen sudah tidak ada waktu lagi. Paling yang mungkin naik rendemen, tetapi produksi gula nasional kalau bisa bertahan saja sudah patut disyukuri karena bobot tebunya turun akibat kekeringan," ujarnya.

Program peremajaan tanaman maupun penyediaan bibit unggul, menurut pandangannya, tak akan berjalan optimal apabila persoalan irigasi belum terselesaikan.

"Kalau pengairan teknis saja sekarang kering, membuat sumur juga biayanya tinggi dan belum tentu efektif karena sebagian tanaman sudah mendekati masa panen," katanya.

Ancaman Meluas ke Komoditas Pangan

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai tekanan akibat El Nino tidak sekadar mengancam produksi tebu, melainkan juga beragam komoditas pangan strategis lainnya.

Menurut penjelasannya, kombinasi antara kekeringan berkepanjangan, pergeseran musim tanam, penyusutan luas panen, hingga bencana banjir di sebagian sentra produksi berpotensi mengurangi produksi padi dan komoditas pangan lainnya.

Perubahan pola musim turut menyebabkan jadwal tanam bergeser sehingga masa panen tertunda, sementara kebutuhan irigasi meningkat dan biaya produksi petani ikut membengkak.

"Kekeringan yang berkepanjangan akibat El Niño mengurangi produksi padi sehingga pasokan beras berkurang dan harga terdorong naik," ujarnya.

Esther memperkirakan tekanan terhadap pasokan beras masih berpeluang berlangsung hingga akhir tahun apabila fenomena El Nino berkembang sesuai proyeksi.

Lantaran itu, pemerintah dinilai perlu mempercepat pelbagai langkah mitigasi, mulai dari perluasan areal tanam, percepatan musim tanam, optimalisasi jaringan irigasi, pompanisasi, penyediaan benih tahan kekeringan, penguatan cadangan beras pemerintah, hingga penyaluran bantuan pangan di daerah terdampak.

Pemerintah Andalkan Pompanisasi

Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah mempercepat strategi adaptasi lewat program pompanisasi dan modernisasi sektor pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengemukakan Kementerian Pertanian menyiapkan sekitar 56.000 unit pompa air pada Tahun Anggaran 2026 demi menjaga pasokan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau.

"Saya selalu sampaikan bahwa sekarang kami perlu pompanisasi untuk memenuhi air dari sungai ke sawah. Mustahil kami lolos dari krisis pangan kalau solusi cepat ini tidak kami lakukan," katanya.

Berdasarkan penuturan Amran, pengalaman menghadapi El Nino pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan menjaga produksi pangan sangat bergantung pada kemampuan menyediakan pasokan air saat curah hujan menurun drastis.

Selain pompanisasi, pemerintah turut mempercepat modernisasi pertanian lewat bantuan alat dan mesin pertanian demi mengerek efisiensi budidaya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Andi Nur Alam Syah menyampaikan distribusi pompa air diprioritaskan ke daerah yang mengalami kekeringan tetapi masih menyimpan sumber air permukaan seperti sungai, waduk, embung, maupun saluran irigasi.

Dari total 56.000 unit pompa yang disiapkan, sekitar 11.000 unit telah disalurkan kepada kelompok tani, sedangkan sekitar 20.000 unit lainnya masih dalam proses distribusi sesuai usulan pemerintah daerah.

Pemerintah juga memperkuat mekanisasi lewat bantuan traktor, rice transplanter, combine harvester, dan pelbagai alat pertanian lainnya guna menggenjot produktivitas sekaligus menekan kehilangan hasil panen.

Menurut Andi, efektivitas program tersebut sangat bergantung pada kesiapan pemerintah daerah mengidentifikasi sumber air yang masih bisa dimanfaatkan agar lahan pertanian tetap produktif sepanjang musim kemarau.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index