BMKG

Cuaca Ekstrem Mengintai Sulut, BMKG Ingatkan Sembilan Wilayah Berisiko Tinggi

Cuaca Ekstrem Mengintai Sulut, BMKG Ingatkan Sembilan Wilayah Berisiko Tinggi
Cuaca Ekstrem Mengintai Sulut, BMKG Ingatkan Sembilan Wilayah Berisiko Tinggi

JAKARTA - Aktivitas masyarakat di Sulawesi Utara diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan terbaru terkait potensi cuaca ekstrem. 

Dalam beberapa hari ke depan, dinamika atmosfer dinilai berada pada fase yang kurang bersahabat, sehingga memunculkan peluang hujan lebat, angin kencang, hingga kilat dan petir di sejumlah daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menegaskan bahwa kondisi ini perlu disikapi dengan kesiapsiagaan sejak dini.

Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis terbaru, cuaca ekstrem tidak hanya berpotensi terjadi di wilayah daratan, tetapi juga kawasan kepulauan. Situasi ini dinilai dapat berdampak luas terhadap aktivitas harian, transportasi, hingga keselamatan masyarakat. Oleh sebab itu, informasi peringatan dini menjadi pijakan penting agar risiko dapat diminimalkan.

Analisis Atmosfer Jadi Dasar Peringatan

BMKG menyampaikan bahwa peringatan ini dikeluarkan setelah dilakukan kajian terhadap dinamika atmosfer yang memengaruhi Sulawesi Utara. Kepala Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Dhira Utama, menjelaskan bahwa sejumlah fenomena atmosfer terpantau aktif dan saling berinteraksi. Kombinasi faktor tersebut meningkatkan potensi pembentukan awan hujan dengan intensitas signifikan.

“Berdasarkan analisis kondisi dinamika atmosfer, kami memantau berbagai fenomena yang memengaruhi cuaca di wilayah Sulawesi Utara,” ujar Dhira dikutip dari Antara, Senin (12/1). Pernyataan ini menegaskan bahwa potensi cuaca ekstrem bukan sekadar prediksi biasa, melainkan hasil pengamatan ilmiah berlapis yang terus diperbarui.

Sembilan Daerah Masuk Zona Waspada

Dalam peringatan tersebut, BMKG menyebutkan sembilan kabupaten dan kota yang berpeluang terdampak cuaca ekstrem. Wilayah itu mencakup Kota Manado dan Bitung, serta Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, dan Minahasa Selatan. Selain kawasan daratan utama, wilayah kepulauan juga masuk dalam daftar waspada.

Daerah kepulauan yang berpotensi terdampak meliputi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kepulauan Sitaro, Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud. BMKG menilai wilayah-wilayah ini memiliki kerentanan tersendiri karena faktor geografis, terutama terkait curah hujan tinggi, angin kencang, dan kondisi laut yang dapat berubah cepat.

Peran Angin Muson dan La Nina

Dhira menjelaskan bahwa salah satu faktor dominan yang memicu kondisi cuaca ekstrem adalah angin Muson barat. Aliran angin ini membawa massa udara basah yang meningkatkan suplai uap air di atmosfer. Kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena La Nina lemah yang masih terdeteksi dan berkontribusi pada peningkatan curah hujan.

Selain itu, suhu muka laut di sekitar wilayah Sulawesi Utara terpantau relatif lebih hangat. Suhu laut yang hangat menjadi sumber energi tambahan bagi pembentukan awan hujan. Dalam situasi seperti ini, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat menjadi lebih besar dan dapat berlangsung dalam durasi cukup panjang.

Pengaruh MJO dan Sirkulasi Siklonik

Faktor lain yang turut berperan adalah prediksi spasial Madden-Julian Oscillation atau MJO. Fenomena ini dikenal sebagai gelombang atmosfer tropis yang dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pembentukan awan hujan. Keberadaan MJO di fase aktif memperbesar peluang terjadinya hujan lebat di wilayah terdampak.

BMKG juga mendeteksi adanya sirkulasi siklonik di Samudera Pasifik utara Papua. Fenomena ini memicu pertemuan dan belokan angin di kawasan sekitar Sulawesi Utara. Dampaknya, aliran udara menjadi lebih tidak stabil dan mendorong peningkatan curah hujan serta potensi angin kencang di wilayah daratan maupun kepulauan.

Kondisi Atmosfer Semakin Tidak Stabil

Kondisi cuaca ekstrem ini semakin diperkuat oleh kelembaban udara basah yang merata di berbagai lapisan atmosfer. Selain itu, indeks labilitas atmosfer terpantau cukup tinggi. Situasi tersebut menunjukkan atmosfer berada dalam kondisi mudah berkembang menjadi awan hujan yang intens.

“Kombinasi dari fenomena tersebut membentuk kondisi atmosfer yang diprediksi akan mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang,” kata Dhira. Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa risiko cuaca ekstrem bersifat nyata dan perlu diantisipasi bersama.

Imbauan Kewaspadaan dan Antisipasi Bencana

BMKG mengimbau masyarakat, pemerintah daerah kabupaten dan kota, serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Koordinasi lintas instansi dinilai penting sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang mungkin timbul.

Risiko yang perlu diwaspadai antara lain genangan air, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. Perhatian khusus juga diminta bagi wilayah dengan topografi curam, bergunung, atau daerah rawan longsor dan banjir. BMKG menekankan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem ini.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. Mengingat sifat cuaca yang dinamis, pembaruan informasi menjadi kunci agar masyarakat dapat mengambil langkah tepat dan cepat. Dengan kesiapsiagaan kolektif, dampak cuaca ekstrem di Sulawesi Utara diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index