JAKARTA - Menjaga kondisi tubuh sejak usia belia saat ini tak cuma ditopang dengan rutin berolahraga, melainkan juga mulai mencermati asupan yang dikonsumsi sehari-hari. Salah satu nutrisi yang kian intens dibahas adalah kolagen, jenis protein yang selama ini kerap diidentikkan dengan perawatan kulit dan estetika penampilan.
Padahal, kolagen diproduksi secara alami oleh tubuh dan terhubung dengan berbagai jaringan penting, termasuk kulit, tulang, persendian, hingga otot. Perbincangan seputar kolagen pun kini mulai merambah kelompok usia yang lebih muda, termasuk mereka yang baru menginjak rentang usia 20-an.
Produksi Kolagen Menurun Setelah Usia 25 Tahun
Marketing Manager RTD Milk & Coffee PT Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group), Gedfanus Pikko Wijaya menerangkan bahwa produksi kolagen mulai mengalami penurunan sewaktu seseorang memasuki usia 25 tahun ke atas.
“Karena setelah umur 25 tahun tuh kadar kolagennya berkurang,” ungkap Pikko saat ditemui pada peluncuran Collagena Smoothies di Cinepolis Senayan Park, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Di samping itu, kolagen dinilai sebagai salah satu protein vital yang tersedia secara alami di dalam tubuh dan memiliki peranan dalam merawat jaringan tubuh, seperti tulang, sendi, otot, maupun kulit.
Keterangan terkait ambang usia tersebut yang lantas menjadi landasan utama mengapa kolagen mulai disosialisasikan kepada kelompok konsumen berusia lebih muda.
Kolagen Mulai Dikenalkan Sejak Usia Muda
Pikko menuturkan bahwa pemahaman seputar kolagen tidak semestinya menunggu seseorang menginjak usia lanjut atau merasakan perubahan fisik akibat penuaan.
Menurut pandangannya, kelompok usia 20 hingga 25 tahun perlu mulai memahami kebutuhan kolagen lantaran berada pada fase usia ketika pembentukan kolagen alami tubuh dilaporkan mulai menurun.
"Jadi dengan kolaborasi ini, kami harapkan awareness terhadap kebutuhan kolagen itu enggak cuma pada usia yang lebih tua atau lebih dewasa, tapi anak anak umur 20-25 tahun itu sudah terpapar bahwa kolagen itu sangat dibutuhkan," jelas Pikko.
Edukasi tersebut juga melandasi alasan Collagena menjalin kerja sama dengan pihak Cinépolis dalam menghadirkan varian produk smoothies.
Pikko menambahkan, anak muda menjadi target audiens yang ingin dirangkul lewat kolaborasi ini mengingat kebiasaan mereka yang gemar menghabiskan waktu di bioskop serta menyukai aktivitas hiburan.
“Karena kami tahu ya anak-anak muda ini sangat suka dengan hal-hal yang memang entertainment dan juga cukup sering ke cinema. Dengan kolaborasi spesial dengan bioskop Cinépolis ini, kami harapkan kami bisa menjangkau lebih banyak audiens, terutama yang muda,” ujar Pikko.
Laki-laki Juga Membutuhkan Kolagen
Manfaat kolagen tidak semata-mata menjadi kebutuhan kaum perempuan, melainkan turut diperlukan oleh laki-laki bertambahnya usia.
Pikko menyampaikan bahwa pemenuhan kolagen tidak hanya krusial untuk perempuan karena protein ini juga menunjang kesehatan tubuh secara keseluruhan.
“Kebutuhan terhadap kolagen tidak hanya relevan bagi perempuan. Laki-laki juga membutuhkan kolagen untuk mendukung kesehatan tubuh seiring bertambahnya usia,” kata Pikko.
Kebutuhan fungsi tersebut membuat topik mengenai kolagen tak lagi sebatas perihal perawatan kulit maupun penampilan perempuan. Tingkat kesadaran akan kolagen pun perlu diperkenalkan kepada kaum pria dari usia yang lebih muda.
Pikko menilai, penyampaian wawasan tentang kolagen kepada pria dapat dilakukan lewat penyajian produk dalam bentuk yang bervariasi dan menarik.
“Ketika memang dihadirkan dengan format yang berbeda-beda dan juga menarik, kami harapkan bisa menjangkau target audiens pria juga,” tutur Pikko.