IHSG Berpotensi Lanjut Melemah, Cermati Rekomendasi Saham Perdagangan Ini

Rabu, 16 September 2026 | 18:52:31 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada dalam tekanan pada sesi perdagangan Rabu (16/9/2026), menyusul koreksi sebesar 1,13 persen menuju ke posisi 6.461,15 pada penutupan sebelumnya.

Berdasarkan kajian BRI Danareksa Sekuritas, indikator teknikal memperlihatkan bahwa indeks secara sah telah menembus batas bawah (breakdown) moving average (MA) 20 di posisi 6.548 dan terlempar keluar dari formasi rising wedge

Di saat bersamaan, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) membentuk bearish crossover yang mengisyaratkan bahwa tren penurunan masih terus membayangi.

“Secara teknikal, IHSG telah breakdown MA20 di 6.548 dan keluar dari rising wedge, dengan MACD bearish crossover yang mengindikasikan momentum masih melemah,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Rabu pagi ini.

Atas dasar dinamika tersebut, IHSG berpeluang bergerak menguji area support terdekat di kisaran 6.390. Apabila level pertahanan ini terlampaui, maka pijakan support berikutnya berada di angka 6.220.

Guna kembali memicu momentum penguatan, pergerakan IHSG dituntut wajib menembus titik resistance 6.585 terlebih dahulu. Apabila zona tersebut sanggup dilewati, IHSG berpotensi membidik level 6.705.

Untuk diketahui, pada perdagangan Selasa (15/9/2026), laju IHSG sempat merangkak naik hingga menyentuh 6.549,60 sebelum akhirnya berbalik arah meluncur turun ke posisi 6.461,01. 

Gelombang tekanan terutama berasal dari sektor energi yang terkoreksi 2,44 persen serta sektor keuangan yang merosot 1,56 persen.

Pergerakan tersebut dipicu oleh melesatnya harga minyak mentah dunia. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bertengger di posisi 102,65 dollar AS per barel, sementara jenis Brent merangkak naik ke level 106,93 dollar AS per barel.

Di lain sisi, nilai tukar rupiah terdepresiasi menuju posisi Rp 17.694 per dollar AS. Melesatnya yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun ke kisaran 5 persen kian memperberat tekanan bagi aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Lebih lanjut, fokus para pelaku pasar bakal tertuju pada respon serta kebijakan perdana Menteri Keuangan Suahasil Nazara, khususnya menyangkut langkah penanganan stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan penjagaan kredibilitas fiskal.

Dari ranah internasional, mata pasar tertuju pada agenda rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 15-16 September waktu AS atau 16-17 September waktu Indonesia Barat (WIB).

 Perhatian investor selanjutnya bakal tertumpu pada sinyal arahan kebijakan The Fed, terkhusus potensi penerapan suku bunga tinggi dalam jangka lebih panjang (higher-for-longer) di tengah bertahannya harga minyak dunia di atas 100 dollar AS per barel serta imbal hasil UST 10 tahun yang berada di kisaran 5 persen.

Rekomendasi saham BRI Danareksa Sekuritas

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): 

strategi swing trade. Area beli berada pada rentang Rp 4.950-Rp 5.050, dengan target jual Rp 5.200-Rp 5.380. Cut loss di bawah Rp 4.900.

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): 

day trade. Area beli berada pada level Rp 710-Rp 720, dengan target jual Rp 750-Rp 780. Cut loss di bawah Rp 700.

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR): 

day trade. Area beli di atas Rp 108, dengan target jual Rp 113-Rp 118. Cut loss di bawah Rp 104.

MNC Sekuritas

PT Vale Indonesia Tbk (INCO): 

rekomendasi Buy on Weakness. INCO berada pada bagian dari wave [b] dari wave B.

PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA): 

rekomendasi Buy on Weakness. Secara teknikal, MAPA berada pada bagian dari wave A dari wave (E).

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO): 

rekomendasi Sell on Strength. AUTO berada pada bagian dari wave (b) dari wave [iv].

Tags

Terkini