Bakteri Usus Tak Seimbang Picu Gangguan Perilaku Anak, Ini Kata Pakar

Kamis, 06 Agustus 2026 | 02:17:32 WIB
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH [FOTO: NET].

JAKARTA — Direktur Medical and Scientific Affairs, Danone Indonesia ?Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH mengutarakan bahwasanya kondisi kesehatan sistem pencernaan semisal ketidakseimbangan bakteri baik pada usus anak berisiko mendatangkan gangguan perilaku.

Berdasarkan penjelasannya, pelbagai riset memperlihatkan adanya keterkaitan antara ketidakseimbangan gut microflora atau bakteri-bakteri baik yang semestinya bertumbuh dalam sistem pencernaan anak yang apabila tak tercukupi, maka sanggup memicu gangguan perilaku, kecemasan berlebih, hingga depresi tahap awal.

"Bakteri-bakteri baik itu juga menghasilkan metabolit-metabolit yang dapat menginisiasi interaksi dengan otak. Jadi sistem pencernaan dan otak itu saling ngobrol dan kalau aksis atau obrolan mereka ini terganggu, maka salah satu gejala yang kelihatan adalah potensi gangguan perilaku pada si kecil,” kata Ray, saat ditemui media di Jakarta, pada Kamis (6/8/2026).

Ray menyebutkan bahwasanya krusial untuk memastikan agar gut microflora alias bakteri-bakteri baik yang menghuni usus terus distimulasi.

Dalam hal tersebut, aneka studi membuktikan bahwasanya asupan prebiotik atau nutrisi bagi bakteri baik beserta probiotik yang bertindak sebagai bakteri baik itu sendiri perlu disajikan secara berdampingan yang dinilai berdaya guna untuk menjamin ketersediaan bakteri baik tetap terjaga.

“Kombinasi itu ternyata sudah terbukti secara klinis merupakan pendekatan yang paling efektif untuk memastikan supaya bakteri baiknya terjaga, sistem pencernaan juga dipertahankan dan crosstalk dengan brain itu menjadi lebih lancar dan potensi gangguan tumbuh kembangnya itu bisa ditekan sekecil mungkin,” tutur dia.

Ray memaparkan prebiotik bertindak sebagai penyedia nutrisi, sedangkan probiotik mengambil peran sebagai rekan atau bakteri baik di dalam usus. Sementara itu, perpaduan keduanya populer dengan sebutan sinbiotik.

Menurut keterangannya, gabungan yang diberikan secara bersamaan itu berdasar pada banyak riset mengindikasikan bahwa sewaktu gut microflora atau gut microbiome alias bakteri baik yang bermukim di usus diberi pasokan makanan sekaligus rekan pendamping, mereka tak hanya berkembang lebih optimal, tetapi juga mendekati variasi yang identik layaknya tatkala seorang anak memperoleh ASI eksklusif dan dilanjutkan dengan konsumsi pangan alami.

“Dan ini penting sekali untuk menjaga imunitas ya, daya tahan tubuh, proses belajar, dan juga perilaku yang baik buat si kecil,” ujar dia.

Lebih jauh, Ray mengimbuhi bahwa pemenuhan asupan prebiotik paling sederhana sanggup diperoleh dari hidangan harian melalui asupan serat. Di lain sisi, kebutuhan probiotik dapat didapatkan dari makanan-makanan hasil fermentasi.

“Tetapi prebiotik dan probiotik itu gampang banget rusak, gampang banget tidak memberikan efek yang maksimal kalau dimakan sendiri-sendiri, kalau prosesnya tidak higienis,” ujar dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut.

Tags

Terkini