Kapasitas KRL Nambo Tak Seimbang dengan Lonjakan Penumpang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:57:32 WIB
KAI Commuter [FOTO: NET].

JAKARTA – Daya tampung layanan KRL Commuter Line rute Nambo dinilai tidak lagi sepadan dengan lonjakan volume penumpang yang terus melesat. Di tengah tingginya pergerakan warga kawasan penyangga Jakarta, frekuensi perjalanan, jumlah gerbong, hingga fasilitas pendukung di lintasan tersebut masih belum sanggup mengimbangi kebutuhan harian.

Catatan PT KAI Commuter memperlihatkan, rute Nambo saat ini mengakomodasi sekitar 135.000 sampai 140.000 penumpang setiap harinya. Akan tetapi, operasional tersebut baru ditopang oleh 16 perjalanan menuju Jakarta Kota serta 16 perjalanan dari Jakarta Kota saban hari.

VP Corporate Secretary PT KAI Commuter Karina Amanda menuturkan, keadaan ini memicu pihak operator harus merancang strategi operasional khusus supaya pelayanan tetap stabil di tengah keterbatasan ketersediaan armada.

"Saat ini volume pengguna pada lintas Nambo sebanyak 135 ribu sampai 140 ribu pengguna setiap hari dengan dilayani sebanyak 16 perjalanan menuju Jakarta Kota dan 16 perjalanan dari Jakarta Kota," ujar Karina kepada Kompas.com, Selasa (4/8/2026).

Bukan cuma kuantitas perjalanan yang terbilang minim, rute Nambo turut memiliki headway atau interval kedatangan antarkereta yang melebihi satu jam. Rentang waktu ini terhitung amat kontras dibanding lintas Bogor yang pada jam sibuk mengantongi interval sekitar lima menit.

Karina memaparkan, KAI Commuter saat ini memilih memprioritaskan kestabilan headway ketimbang memaksakan penambahan jumlah rangkaian kereta.

"Saat ini KAI Commuter mengutamakan dan menjaga headway atau jarak waktu perjalanan antar Commuter Line terutama pada jam sibuk pagi maupun sore hari. Headway ini merupakan langkah yang diambil untuk antisipasi kebutuhan sarana KRL dan mengurai kepadatan pengguna yang menunggu perjalanannya," kata dia.

Kendati demikian, opsi taktis tersebut belum sepenuhnya menuntaskan kendala di lapangan. Rute Nambo masih didominasi oleh rangkaian delapan gerbong (SF8), sementara jumlah penumpang konsisten melonjak setiap hari. 

Dampaknya, kondisi berjejal di dalam gerbong maupun area stasiun masih sulit dihindarkan, utamanya saat jam berangkat dan pulang kantor.

Malahan, tidak sedikit pengguna memilih beralih ke stasiun lain seperti Bojonggede, Citayam, atau Depok guna memperoleh opsi jadwal yang lebih beragam.

"Banyak pengguna di wilayah tersebut (Nambo) yang menuju stasiun lainnya seperti Stasiun Bojonggede, Citayam, dan Depok untuk naik Commuter Line," ujar Karina.

Bukan masalah baru

Situasi padatnya KRL rute Nambo sebetulnya bukan persoalan yang baru muncul. Sejak medio 2025, deretan pengguna telah mengeluhkan minimnya frekuensi keberangkatan. 

Kala itu, interval kedatangan kereta berkisar antara 55 menit hingga satu jam, yang membuat penumpang mesti memperhitungkan jam keberangkatan dengan amat ketat.

"Kalau telat sedikit aja, bisa nunggu sampai hampir jam delapan. Itu bisa bikin telat ngampus," ujar Dede (22), seorang mahasiswa, saat ditemui Kompas.com di Stasiun Nambo pada Juni 2025.

Keterbatasan alokasi jadwal turut berdampak pada perjalanan pulang. Penumpang yang ketinggalan jadwal kereta pamungkas kerap terpaksa merogoh kocek lebih besar demi melanjutkan perjalanan memanfaatkan moda transportasi alternatif.

"Pernah saya kelamaan lembur, pas ke Stasiun Jakarta Kota kereta terakhir ke Nambo udah jalan. Terpaksa turun di Bojonggede terus naik ojek ke rumah. Ongkosnya bisa dua kali lipat, bahkan lebih," kata Dendi (29), warga Klapanunggal.

Aspirasi senada kembali mencuat dalam beberapa waktu belakangan lewat media sosial Threads. Seorang pengguna akun @d_iaaan menyuarakan keluhan soal penggunaan rangkaian delapan gerbong di lintasan yang mengantongi jeda jadwal sekitar satu jam.

"Tega banget lu @commuterline, line Nambo udah jadwalnya cuma sejam sekali, ga pagi ga malem pas rush hour dikasihnya 8 rangkaian mulu. Minimal 10 lah."

Sementara itu, akun @achie_ryani turut mengeluhkan rasa lelah akibat harus berdesak-desakan di dalam armada SF8.

"Udah dua hari loh red line 8SF terossss @commuterline ke penyet banget loh belum tempur sama kerjaan energy udah abis."

Bahkan, pemilik akun @nataliecristian membeberkan bahwa kondisi berdesakan di dalam kereta sempat mengakibatkan penumpang pingsan.

"Diperhatiin, dari minggu lalu Nambo-Jakot selalu dapat 8 gerbong. Kami udah seneng kalau dapet 10 gerbong ga terlalu penuh, ini 8 gerbong alhasil ada pingsan."

Terkendala armada dan infrastruktur

Pihak KAI Commuter mengakui bahwa daya tampung pelayanan saat ini memang belum berada di titik ideal. Meski begitu, penambahan unit rangkaian maupun peningkatan frekuensi perjalanan masih bergantung penuh pada kesiapan sarana dan prasarana.

Karina menguraikan, pengoperasian rangkaian yang lebih panjang layaknya SF10 atau SF12 belum bisa direalisasikan secara maksimal lantaran sejumlah stasiun di lintasan Nambo belum mengantongi peron yang memadai.

Mengambil contoh Stasiun Cibinong, dimensi panjang peron saat ini hanya sanggup memfasilitasi delapan gerbong. Apabila dipaksakan memakai rangkaian 10 gerbong, sebagian pintu kereta bakal berhenti di luar area peron.

"Untuk penambahan jadwal secara full perjalanan (Nambo-Jakarta Kota) masih terus dikoordinasikan kepada pihak terkait untuk penyesuaian kapasitas prasarananya seperti daya Listrik Aliran Atas (LAA) maupun kapasitas peron di setiap stasiun lintas Nambo," jelas Karina.

Di samping pembenahan infrastruktur, peningkatan daya tampung juga masih menunggu hadirnya unit trainset baru agar operasional di semua lintasan dapat melaju secara seimbang.

Ada komitmen perbaikan

Di tengah melonjaknya kebutuhan mobilitas warga, pembenahan mutu layanan KRL rute Nambo sudah dimasukkan ke dalam daftar prioritas sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama PT KAI.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuturkan, percepatan headway KRL Nambo-Citayam menjadi salah satu fokus pengembangan jaringan perkeretaapian di wilayah penyangga Jakarta.

Menerusi pemangkasan interval perjalanan dan pembenahan prasarana, pemerintah berharap durasi tunggu antarkereta dapat dipersingkat sehingga daya tamping pelayanan sanggup mengimbangi ritme pertumbuhan mobilitas masyarakat yang kian pesat.

Tags

Terkini