JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa inovasi, integritas, serta semangat belajar sepanjang hayat merupakan kunci utama dalam membentuk generasi Indonesia yang mampu bersaing di kancah global.
Saat menyampaikan pidato kunci pada Seminar Wisuda Universitas Terbuka Tahun Akademik 2025/2026 di Jakarta pada hari Senin (27/7/2026), ia menyatakan hal tersebut sebagai fondasi esensial bagi lahirnya generasi penerus bangsa yang siap menghadapi berbagai tantangan internasional.
"Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tidak akan menggantikan peran manusia yang memiliki karakter, etika, dan kemampuan berpikir kritis," ujar Yusril, sebagaimana dikonfirmasi di Jakarta pada hari Kamis (30/7/2026).
Langkah tersebut mendasari ajakan Menko kepada para calon wisudawan agar memandang kelulusan bukan sebagai akhir dari masa studi, melainkan permulaan dari proses pembelajaran yang berlangsung seumur hidup.
Ia memberikan apresiasi kepada para mahasiswa Universitas Terbuka yang sukses merampungkan pendidikan di tengah kesibukan yang beragam, mulai dari bekerja, mengurus rumah tangga, hingga menunaikan tugas pelayanan masyarakat.
Yusril mengaku tidak pernah berhenti belajar sehingga dirinya mengingatkan para wisudawan bahwa pencapaian gelar sarjana bukan tanda berakhirnya proses menimba ilmu, melainkan modal dasar untuk terus mengembangkan kapasitas diri dalam menghadapi pergeseran zaman.
Ia turut membagikan kisah perjuangan masa lalunya dalam menempuh pendidikan, mulai dari bersekolah tingkat atas pada sore hingga malam hari di Belitung, hingga akhirnya diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Pengalaman hidup tersebut, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa berbagai keterbatasan tidak boleh dijadikan hambatan untuk menggapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya sikap terbuka terhadap beragam khazanah ilmu pengetahuan, di mana seorang kaum terpelajar dari Indonesia harus mampu memahami pemikiran Barat, Timur, maupun Islam tanpa kehilangan identitas aslinya sebagai bangsa Indonesia.
"Kami belajar dari semua sumber. Sebagai intelektual Indonesia, jangan menjadi orang Barat di dunia Timur, tetapi jadilah orang Indonesia yang memahami pemikiran Timur, Barat, dan Islam secara utuh," katanya.
Menanggapi kemajuan teknologi saat ini, ia mengemukakan bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan telah mengubah pola kerja serta cara manusia dalam mengambil keputusan.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi berfungsi sebatas alat bantu semata, sedangkan kemampuan nalar, pemahaman konteks, serta pembangunan nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi keunggulan insani yang tidak tergantikan.
Oleh karena itu, ia menaruh harapan besar agar institusi pendidikan tinggi mampu mencetak lulusan yang adaptif terhadap kemajuan teknologi serta peka terhadap dinamika sosial, hukum, ekonomi, dan geopolitik yang saling terhubung secara global.
Mengulas tema seminar tentang penciptaan generasi yang inovatif, berintegritas, dan mendunia, Menko menyampaikan bahwa gagasan inovatif lahir dari ketajaman kepekaan terhadap berbagai persoalan riil di tengah masyarakat.
Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kepedulian seseorang terhadap problematika di sekitarnya, sambung dia, maka semakin terbuka pula peluang untuk menghadirkan solusi yang berfaedah.
"Bangsa yang maju bukan lah bangsa yang tidak memiliki masalah, melainkan bangsa yang memiliki banyak orang terdidik yang mau memikirkan dan menyelesaikan persoalan yang dihadapinya," ujar Yusril.
Di samping faktor inovasi, ia menilai bahwa integritas adalah modal sosial yang paling bernilai tinggi, yang tercermin dari keselarasan antara olah pikir, ucapan, serta perbuatan, sekaligus diuji saat seseorang mendapati kesempatan untuk berbuat curang tanpa diketahui pihak lain.
Dikatakan pula bahwa kepercayaan publik memerlukan waktu yang panjang untuk dibangun, namun dapat hancur seketika hanya karena satu tindakan ketidakjujuran, sehingga integritas wajib menjadi pedoman hidup setiap insan terdidik.
Ia tidak lupa mengingatkan bahwa penegakan hukum tidak cukup hanya bertumpu pada aspek regulasi dan kelembagaan semata, melainkan harus ditegakkan dengan berlandaskan etika serta nurani agar mampu mewujudkan keadilan sejati bagi masyarakat.
Oleh sebab itu, Yusril mengimbau para calon wisudawan Universitas Terbuka untuk senantiasa mengasah kapasitas diri, mempertahankan integritas, serta mengambil peran aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa lewat jalur ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengabdian masyarakat.
Sementara itu, Rektor Universitas Terbuka Ali Muktiyanto mengutarakan bahwa seminar wisuda diselenggarakan sebagai sarana pembekalan esensial bagi para calon wisudawan sebelum mereka mengikuti upacara wisuda resmi.
Ia menambahkan bahwa Universitas Terbuka saat ini menaungi sekitar 2,3 juta alumni serta hampir 900 ribu mahasiswa aktif yang tersebar secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Menurutnya, kehadiran Menko Yusril diharapkan mampu menumbuhkan inspirasi bagi para calon wisudawan agar terus menggelorakan semangat belajar, menjaga integritas, serta mempersembahkan karya nyata bagi pembangunan negara.