JAKARTA - Kalangan petani tembakau yang berada di wilayah Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, menaruh harapan besar agar komoditas hasil panen tembakau tahun ini dapat dihargai dengan tingkat jual yang tinggi di tengah tren lonjakan biaya produksi yang harus mereka tanggung.
Supardi (47), salah seorang warga yang bertempat tinggal di Kecamatan Pamekasan, membeberkan bahwa harga pasaran untuk produk pupuk serta obat-obatan pertanian tanaman tembakau mengalami kenaikan, sehingga memberikan dampak langsung terhadap pembengkakan biaya produksi.
"Pupuk yang kami pakai naik sekitar Rp 5.000 hingga Rp 7.500," ungkapnya, Rabu (29/7/2026).
Di samping itu, beberapa varian jenis obat-obatan tanaman juga merangkak naik sebesar Rp 5.000 apabila dikomparasikan dengan patokan harga pada periode sebelumnya.
Padahal, kebutuhan akan ketersediaan pupuk dan obat tersebut wajib dibeli secara kontinu oleh para petani sejak tahapan awal masa tanam hingga menjelang musim panen tiba.
Supardi menuturkan bahwa untuk luasan tanaman tembakau yang dibudidayakannya, total estimasi kebutuhan biaya produksinya kurang lebih menelan angka mencapai kisaran Rp 10 juta.
Komponen biaya tersebut mencakup tahapan pengolahan lahan sawah, pengadaan bibit tanaman, biaya pengairan air, hingga pembelian pupuk dan obat.
"Itupun belum termasuk biaya panen dan biaya pasca panen. Kebetulan saya cukup banyak menanam bibit sekarang," kata Supardi.
Ia menambahkan bahwa kisaran pengeluaran untuk penanganan pasca panen terkadang kerap muncul di luar perkiraan rencana anggaran. Pasalnya, tanaman tembakau tersebut terkadang bisa dijual langsung sebelum dipanen, tetapi dapat pula dipasarkan dalam wujud rupa tembakau kering siap jual.
"Kami bayar orang untuk merajang, saat pengemasan pun butuh biaya," ujar Supardi.
Pada saat tahapan proses pengemasan hasil panen, para petani juga diharuskan untuk menyiapkan wadah pembungkus berupa tikar tradisional yang dianyam dari bahan daun lontar.
Harga beli material tikar tersebut dipastikan mengalami kenaikan, di mana pada kondisi normal biasanya berkisar di angka Rp 40.000 per lembar namun kini bisa melonjak naik menjadi Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per lembarnya.
Supardi sangat mengharapkan agar komoditas tembakau hasil jerih payahnya tahun ini dapat dibeli dengan penawaran harga yang tinggi di pasaran. Apabila nantinya posisi harga jual anjlok berada di bawah angka Rp 50.000 per kilogram, dipastikan para petani bakal menanggung kerugian besar.
"Kalau harganya di bawah Rp 50.000 akan rugi, meski untung ya tipis," ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa perjuangan moril maupun fisik dalam merawat tanaman tembakau mulai dari fase awal tanam sampai detik-detik masa panen bukanlah perkara yang mudah untuk dilalui.
Setiap hari semenjak pagi buta dirinya sudah harus berada di areal sawah, dan ketika pasokan ketersediaan air menyusut sedikit saja, rasa bingung langsung melanda.
"Saya berharap harga masih tinggi, sebab biayanya juga tinggi tahun ini," katanya.
Supardi mengimbuhkan bahwasanya proses budidaya tanaman tembakau menuntut pengerahan tenaga fisik yang jauh lebih ekstra. Terutama pada fase awal masa penanaman, ketersediaan pasokan cadangan air harus dipastikan selalu siap sedia.
"Itupun belum termasuk ancaman cuaca, hujan hingga hama yang bisa merusak daun," pungkasnya.