JAKARTA - Performa industri otomotif China sepanjang 2025 memperlihatkan dinamika yang menarik di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Sejumlah produsen mencatatkan pertumbuhan signifikan, bahkan melampaui target penjualan, sementara beberapa merek lain masih tertahan oleh tekanan pasar dan strategi ekspansi yang agresif.
Di tengah kondisi tersebut, pabrikan mobil listrik dan konvensional asal Negeri Tirai Bambu tetap menunjukkan dominasinya. Nama-nama besar seperti BYD, Geely, dan Chery masih menjadi tulang punggung penjualan, sekaligus penentu arah persaingan industri otomotif dunia.
Dominasi BYD di Tengah Target Ambisius
BYD kembali menegaskan posisinya sebagai produsen otomotif China terbesar dari sisi volume penjualan sepanjang 2025. Perusahaan ini membukukan penjualan sebanyak 4,6 juta unit kendaraan di pasar global, mencakup mobil listrik dan hybrid.
“Capaian itu setara 83,68% dari target ambisius 5,5 juta unit yang ditetapkan perusahaan. Hal itu sekaligus menegaskan dominasi BYD di pasar otomotif China meski target belum sepenuhnya tercapai,” tulis laporan Carnewschina, dikutip Senin (5/1/2026).
Meski belum memenuhi target internal, angka penjualan tersebut tetap menempatkan BYD jauh di atas para pesaingnya. Posisi ini memperkuat reputasi BYD sebagai pemain utama dalam transisi kendaraan listrik global.
Geely dan Chery Jaga Posisi Tiga Besar
Di bawah BYD, Geely Automobile mencatatkan kinerja positif dengan penjualan lebih dari 3,02 juta unit sepanjang 2025. Angka tersebut sedikit melampaui target akhir perusahaan yang dipatok sebesar 3 juta unit.
Capaian Geely menunjukkan konsistensi strategi produk dan ekspansi pasar yang relatif stabil. Dengan portofolio merek yang luas, Geely mampu menjaga volume penjualan di tengah fluktuasi permintaan global.
Sementara itu, Chery Automobile membukukan penjualan 2,63 juta unit sepanjang 2025. Walau tergolong solid, capaian tersebut baru memenuhi sekitar 80% dari target tahunan 3,26 juta unit yang telah ditetapkan sebelumnya.
Tekanan pada paruh kedua tahun berjalan disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi performa Chery. Namun demikian, posisinya tetap aman sebagai salah satu produsen terbesar China.
Produsen Tertinggal dan Tantangan Target Besar
Great Wall Motor menjadi salah satu pabrikan dengan selisih terbesar antara target dan realisasi penjualan. Sepanjang 2025, GWM hanya mencatatkan penjualan sekitar 1,32 juta unit kendaraan.
Angka tersebut terpaut jauh dari target agresif perusahaan yang mencapai 4 juta unit. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspansi besar tanpa dukungan permintaan yang sepadan dapat menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, GWM tetap mempertahankan eksistensinya di pasar global dan terus mengembangkan portofolio kendaraan, termasuk segmen kendaraan listrik dan SUV yang menjadi andalan.
Merek yang Melampaui Ekspektasi Pasar
Di sisi lain, beberapa produsen justru berhasil melampaui target yang telah ditetapkan. Leapmotor, misalnya, mampu mengirimkan hampir 600.000 unit kendaraan, melampaui sasaran awal sebanyak 500.000 unit.
Kinerja serupa juga ditunjukkan oleh Xpeng Motors yang mencatatkan pengiriman lebih dari 429.000 unit sepanjang 2025. Angka tersebut jauh di atas target perusahaan yang semula berada di kisaran 350.000 unit.
Capaian ini mencerminkan tingginya minat konsumen terhadap produk kendaraan listrik berbasis teknologi canggih. Inovasi dan diferensiasi produk menjadi kunci keberhasilan sejumlah merek tersebut.
Pendatang baru Xiaomi Auto juga mencuri perhatian. Pada tahun produksi penuh pertamanya, Xiaomi Auto berhasil mencatatkan penjualan lebih dari 400.000 unit kendaraan.
Ekspansi Merek China ke Pasar Indonesia
Perlu diketahui, sejumlah merek otomotif China kini telah merambah pasar Indonesia. BYD, Geely, Chery, Great Wall Motor, hingga Xpeng termasuk di antara jenama yang aktif memperluas kehadirannya di Tanah Air.
Bahkan, sebagian besar produsen tersebut sudah memulai atau merencanakan perakitan lokal. BYD telah membangun pabrik mobil listrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 150.000 unit.
Produksi lokal BYD direncanakan dimulai pada awal tahun ini. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat pasar domestik sekaligus mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional.
Chery saat ini masih menumpang di fasilitas perakitan PT Handal Indonesia Motor di Bekasi, namun perusahaan tersebut telah menyatakan rencana untuk membangun pabrik sendiri di Indonesia.
Geely dan Xpeng juga melakukan perakitan lokal di fasilitas PT HIM yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat. Kehadiran pabrik ini mempercepat distribusi sekaligus menekan biaya produksi.
Sementara itu, Great Wall Motor yang berada di bawah naungan Grup Inchcape telah memiliki fasilitas perakitan di Wanaherang, Jawa Barat. Langkah ini menegaskan keseriusan GWM dalam menggarap pasar Indonesia.
Peta Persaingan Mobil China di 2025
Berdasarkan data penjualan global, persaingan merek mobil China sepanjang 2025 terlihat semakin ketat. BYD memimpin dengan penjualan 4.602.436 unit, diikuti Geely 3.024.567 unit dan Chery 2.631.381 unit.
Great Wall Motor berada di posisi berikutnya dengan 1.323.672 unit. Leapmotor dan HIMA mencatatkan penjualan masing-masing 596.555 unit dan 589.107 unit.
Xpeng membukukan 429.445 unit, disusul Li Auto sebanyak 406.343 unit. Xiaomi Auto menorehkan penjualan lebih dari 400.000 unit, sementara Nio mencatatkan 326.028 unit.
Data tersebut menggambarkan peta kekuatan industri otomotif China yang kian beragam. Persaingan tidak hanya terjadi pada volume penjualan, tetapi juga pada inovasi, teknologi, dan ekspansi pasar global.