Panas Bumi

Prospek Saham PGEO Menguat Didukung Peran Strategis Panas Bumi Nasional

Prospek Saham PGEO Menguat Didukung Peran Strategis Panas Bumi Nasional
Prospek Saham PGEO Menguat Didukung Peran Strategis Panas Bumi Nasional

JAKARTA - Di tengah upaya Indonesia mempercepat transisi energi, peran panas bumi kian menonjol sebagai sumber listrik bersih yang andal. 

Energi ini tidak hanya mendukung target pengurangan emisi, tetapi juga menjaga stabilitas pasokan listrik nasional karena sifatnya yang berkarakter baseload.

Dalam konteks tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk dinilai berada pada posisi yang semakin strategis. Emiten berkode PGEO ini dipandang mampu mengambil peran penting dalam mendorong peningkatan bauran Energi Baru Terbarukan sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.

Analis pasar modal dari Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, melihat prospek PGEO dari sisi bisnis dan pasar modal relatif positif. Ia menilai pengelolaan panas bumi yang dilakukan perusahaan memberi kombinasi antara pertumbuhan yang terukur dan risiko yang lebih terkendali.

Panas Bumi Jadi Fondasi Transisi Energi

Jeremy menilai panas bumi memiliki keunggulan dibandingkan sumber energi terbarukan lain karena sifatnya yang stabil. Karakter baseload membuat pembangkit panas bumi dapat beroperasi secara konsisten tanpa tergantung cuaca, sehingga mendukung keandalan pasokan listrik.

PGEO sebagai pengelola aset panas bumi milik negara dipandang berkontribusi langsung pada upaya peningkatan bauran EBT nasional. Peran ini semakin relevan di tengah komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Dari sisi bisnis, stabilitas operasional panas bumi juga berdampak pada kinerja keuangan yang relatif konsisten. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat PGEO dinilai menarik bagi investor dengan profil risiko moderat.

Jeremy menyebutkan, posisi PGEO saat ini cukup solid untuk memanfaatkan momentum transisi energi yang sedang berlangsung di Indonesia.

Target Kapasitas dan Pertumbuhan Terukur

Dalam laporannya, Jeremy menyoroti target PGEO untuk meningkatkan kapasitas terpasang menuju 1 gigawatt. Target tersebut diiringi dengan proyeksi produksi listrik sebesar 5,5 hingga 6,0 gigawatt hour pada 2028.

“Dengan target pengembangan kapasitas menuju 1 gigawatt (GW) dan produksi 5,5–6,0 gigawatt hour (GWh) pada 2028, PGEO menawarkan kombinasi pertumbuhan yang terukur dan profil bisnis yang relatif defensif, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah emiten EBT lain maupun sektor seperti pertambangan mineral dan logam,” ujar Jeremy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Pipeline ekspansi yang jelas menjadi salah satu kekuatan utama PGEO. Sejumlah proyek strategis yang tengah dikembangkan dinilai mampu memperkuat kontribusi panas bumi terhadap bauran listrik nasional.

Dengan rencana ekspansi yang terukur, PGEO dinilai tidak hanya mengejar pertumbuhan agresif, tetapi juga menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Daya Tarik bagi Investor Energi Hijau

Jeremy menambahkan, karakter bisnis panas bumi yang stabil membuat pertumbuhan pendapatan dan laba PGEO cenderung lebih konsisten. Hal ini menjadi pembeda dibandingkan sektor lain yang lebih fluktuatif.

Target perusahaan untuk menjadi 1 GW company dinilai memberikan visibilitas pertumbuhan yang jelas. Bagi investor yang tertarik pada sektor energi hijau, kondisi ini menawarkan peluang dengan risiko yang relatif lebih terkendali.

Ia meyakini peluang pertumbuhan PGEO dalam beberapa tahun ke depan masih terbuka lebar. Hal ini sejalan dengan kebutuhan peningkatan kapasitas listrik berbasis EBT di Indonesia.

Dengan fundamental bisnis yang mendukung, PGEO dipandang mampu menjaga daya tariknya di tengah dinamika pasar energi.

Proyeksi Kinerja Keuangan Jangka Menengah

Dalam tiga tahun ke depan, Jeremy memproyeksikan kapasitas PGEO dapat mencapai 1 gigawatt pada 2028. Capaian tersebut berpotensi mendorong total produksi listrik hingga sekitar 5,5–6,0 GWh.

“EBITDA diproyeksikan dapat mencapai US$484 juta pada 2028 (CAGR 2024–2028 sebesar 11%), sementara laba bersih diperkirakan mencapai US$201 juta pada 2028 (CAGR 2024–2028 sebesar 5,8%),” jelasnya.

Proyeksi ini mencerminkan pertumbuhan yang tidak hanya bertumpu pada peningkatan kapasitas, tetapi juga efisiensi operasional. Stabilitas produksi panas bumi menjadi faktor penting dalam menjaga margin perusahaan.

Dengan pertumbuhan yang relatif konsisten, PGEO dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka menengah.

Fundamental dan Valuasi Dinilai Sehat

Dari sisi fundamental, Jeremy menilai neraca keuangan PGEO masih cukup sehat. Struktur permodalan yang kuat memberi ruang bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi lanjutan.

“PGEO memiliki growth story yang jelas dari sisi penambahan kapasitas secara organik. Dari sisi valuasi, PGEO juga masih relatif reasonable dibandingkan pemain panas bumi lainnya di Indonesia,” katanya.

Selain itu, gearing ratio PGEO dinilai berada di bawah rata-rata industri. Kondisi ini memberikan fleksibilitas pembiayaan apabila perusahaan membutuhkan pendanaan tambahan untuk proyek ekspansi.

Kombinasi valuasi yang relatif wajar dan neraca yang solid memperkuat pandangan positif terhadap prospek saham PGEO.

Dukungan Kebijakan dan Sinergi Proyek

Prospek sektor EBT dinilai akan semakin menguat seiring target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025–2034. Dalam dokumen tersebut, kontribusi listrik dari EBT ditargetkan mencapai 30 persen pada 2034.

Tambahan kapasitas terpasang EBT ditargetkan sebesar 52,8 GW, dengan panas bumi diproyeksikan menyumbang sekitar 5,2 GW. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan kapasitas eksisting saat ini.

Jeremy juga menyoroti pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan dalam eksekusi proyek. Keterlibatan Danantara dalam mendukung kerja sama PGEO dan PLN, termasuk melalui penandatanganan nota kesepahaman, dinilai sebagai langkah strategis.

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan 19 proyek panas bumi dengan potensi tambahan kapasitas hingga 530 MW. “Dengan keterlibatan Danantara, kami melihat koordinasi antara PGEO dan PLN sebagai offtaker tunggal dapat berjalan lebih selaras dalam pengembangan proyek ke depan,” pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index