Bank Danamon Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% Sepanjang 2026

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:37:01 WIB
ILUSTRASI. Bank Dunia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai 5% pada 2026, dan 5,2% pada 2027. [FOTO: NET].

JAKARTA - Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia terpantau masih mampu bertahan di atas ambang batas 5 persen pada kuartal II 2026, meskipun daya dorong yang bersumber dari sektor konsumsi rumah tangga serta belanja anggaran pemerintah mulai memasuki fase normalisasi seusai perhelatan musim libur Ramadan dan Lebaran.

Di tengah tren melandainya kedua komponen penopang tersebut, sektor investasi mulai mengambil alih peran yang jauh lebih signifikan sebagai motor penggerak penyangga pertumbuhan ekonomi nasional.

Merujuk pada hasil analisis riset dari tim Treasury Economist Bank Danamon, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada periode kuartal II/2026, yang mana angka capaian ini berada di atas ekspektasi proyeksi awal Danamon di level 5,2 persen serta melampaui konsensus pasar yang bertengger di kisaran 5,1 persen.

Kendati demikian, tingkat pencapaian tersebut mengalami sedikit perlambatan jika dikomparasikan dengan kinerja pertumbuhan pada kuartal I/2026 yang sempat menyentuh angka 5,6 persen.

Pihak Danamon menilai bahwa perlambatan yang terjadi pada kuartal II ini utamanya dipicu oleh faktor normalisasi konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah. Seusai mendapatkan suntikan tenaga dorong yang masif dari tingginya aktivitas ekonomi selama momen Ramadan-Lebaran di awal tahun, tingkat sumbangan kontribusi konsumsi rumah tangga mengalami penurunan ke level 2,67 poin persentase (ppt) dari catatan sebelumnya yang mencapai 2,95 ppt.

Sementara itu, laju komponen konsumsi pemerintah juga terlihat melandai setelah sebelumnya sempat mencatatkan lonjakan tinggi pada kuartal I seiring dengan pencairan anggaran belanja pegawai, pelunasan pembayaran tunjangan hari raya (THR), serta berjalannya berbagai program prioritas strategis nasional. Besaran kontribusi konsumsi pemerintah menyusut menjadi 1,07 ppt dari posisi sebelumnya yang berada di angka 1,26 ppt pada kuartal sebelumnya.

Walaupun demikian, tren perlambatan dari dua sektor tersebut berhasil diredam oleh penguatan kinerja investasi. Sinyal penguatan ini terlihat dari kenaikan kontribusi investasi yang terdongkrak naik menjadi 2,06 ppt pada kuartal II 2026, meningkat dari perolehan sebesar 1,79 ppt pada kuartal I 2026.

Lonjakan penguatan investasi tersebut disokong oleh aliran penanaman modal pemerintah yang berfokus pada pengerjaan program prioritas nasional serta pembangunan infrastruktur, di samping sokongan investasi dari sektor swasta yang masuk ke dalam bidang manufaktur, program hilirisasi industri, pengadaan mesin, infrastruktur digital, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga pembangunan fasilitas pusat data (data center).

Berdasarkan catatan statistik Danamon, realisasi total investasi pada kurun kuartal II/2026 berhasil menyentuh kisaran angka Rp512 triliun serta terus menampilkan tren pergerakan positif di tengah tekanan kondisi investasi domestik yang ada. Kenaikan angka investasi tersebut turut berjalan lurus dengan peningkatan volume impor barang-barang modal.

Ditinjau dari perspektif sektoral, pelemahan tingkat pertumbuhan paling terasa melanda sektor industri manufaktur serta beberapa lini bidang usaha lainnya. Walau demikian, sektor konstruksi dan perdagangan terbukti masih mampu memberikan sokongan positif bagi roda perekonomian.

Tercatat kontribusi sektor manufaktur merosot menjadi 0,90 ppt dari posisi awal 1,03 ppt, sedangkan sektor konstruksi justru mengalami peningkatan menjadi 0,62 ppt dari 0,53 ppt, disusul pula oleh sektor perdagangan yang mencatatkan kenaikan tipis menjadi 0,83 ppt dari 0,82 ppt.

Di sisi lain, sektor pertambangan justru menjadi salah satu titik sektor terlemah dengan membukukan kontraksi pertumbuhan sebesar 1,64 persen yoy, yang mana hal tersebut salah satunya diakibatkan oleh kebijakan pembatasan tingkat produksi.

Sebaliknya, beberapa sektor usaha lain seperti sektor listrik dan gas, bidang akomodasi serta penyediaan makan dan minuman, hingga sektor informasi dan komunikasi justru mencatatkan tren tingkat pertumbuhan yang terbilang tinggi.

Memasuki paruh kedua tahun 2026 ini, pihak Danamon memberikan estimasi proyeksi bahwa laju pertumbuhan ekonomi nasional bakal mengalami perlambatan tipis seiring dengan normalisasi alokasi belanja fiskal negara.

Pemerintah diproyeksikan akan terus bertindak sebagai jangkar penopang utama permintaan di pasar domestik, meski dengan tingkat besaran kontribusi yang jauh lebih moderat apabila dibandingkan dengan performa pada semester I 2026. Secara keseluruhan, Danamon mematok proyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 ini akan berada pada kisaran level 5,2 persen.

Tags

Terkini