Surya Semesta Internusa Bukukan Laba Rp262,6 Miliar pada Semester I

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:47:02 WIB
PT Surya Semesta Internusa [FOTO: NET].

JAKARTA - Emiten yang terafiliasi langsung dengan kelompok usaha grup Djarum, yakni PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA), sukses membukukan catatan performa kinerja keuangan yang positif sepanjang paruh pertama tahun 2026 dengan menorehkan lonjakan signifikan pada pos pendapatan dan perolehan laba bersih.

Merujuk pada laporan keuangan resmi perseroan, SSIA mencatatkan angka pendapatan konsolidasian sebesar Rp3,35 triliun pada semester I/2026, yang mengalami lonjakan tajam sebesar 58,4% secara tahunan (year on year/YoY) apabila dikomparasikan dengan perolehan pada periode serupa tahun sebelumnya yang berada di level Rp2,12 triliun.

VP of Investor Relation dan Corporate Communication SSIA Erlin Budiman menyampaikan pertumbuhan tersebut terutama berasal dari segmen properti yang mencatatkan kenaikan pendapatan paling tinggi. Pendapatan segmen ini mencapai Rp1,27 triliun, melesat 274,1% YoY, didorong oleh pengakuan penjualan akuntansi lahan industri.

"Pertumbuhan kinerja tersebut, terutama ditopang oleh pengakuan penjualan lahan industri atau accounting sales recognition yang kuat pada bisnis kawasan industri," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Rabu (5/8/2026).

Kondisi operasional bisnis yang berjalan jauh lebih solid tersebut turut mendorong SSIA dalam membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp262,6 miliar sepanjang semester I/2026.

Segmen properti kembali bertindak sebagai motor penggerak utama dengan sumbangsih perolehan laba bersih mencapai angka Rp459,3 miliar, yang melonjak sangat tajam jika dibandingkan dengan catatan pada semester I/2025 yang hanya membukukan sebesar Rp44,9 miliar.

Perolehan EBITDA konsolidasian tercatat berada di kisaran angka Rp692,5 miliar dengan tingkat marjin EBITDA sebesar 20,7%, yang jauh lebih tinggi jika dikomparasikan dengan perolehan EBITDA sebesar Rp106 miliar dengan marjin 5% pada periode semester I/2025.

Peningkatan level marjin yang paling mencolok bersumber dari lini segmen properti yang sukses mencatatkan marjin EBITDA hingga menyentuh angka 42,9%, naik secara signifikan dari posisi 14,5% pada kurun waktu yang sama tahun lalu.

Di balik catatan lonjakan performa kinerja keuangan tersebut, aktivitas transaksi penjualan lahan industri baru justru terpantau mengalami perlambatan. Sepanjang semester I/2026, PT Suryacipta Swadaya (SCS) selaku entitas anak usaha SSIA yang mengelola kawasan industri hanya membukukan penjualan pemasaran (marketing sales) lahan industri seluas 9,4 hektare dengan nilai nominal mencapai Rp195,9 miliar.

Pihak perseroan memberikan penjelasan bahwa perlambatan tersebut utamanya dipengaruhi oleh meningkatnya eskalasi ketidakpastian situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong sejumlah korporasi global untuk memilih menunda keputusan investasi langsung (foreign direct investment/FDI).

Kendati demikian, besaran angka pengakuan penjualan akuntansi (accounting sales) tetap terpantau tinggi lantaran bersumber dari rangkaian transaksi yang sudah dibukukan pada periode sebelumnya.

Sepanjang paruh pertama 2026 ini, SSIA mengakui realisasi penjualan lahan industri seluas 64,7 hektare dengan total nilai mencapai Rp1,08 triliun yang berasal dari proyek pembangunan Subang Smartpolitan serta kawasan Suryacipta City of Industry Karawang.

Sampai dengan berakhirnya bulan Juni 2026, posisi tunda buku (backlog) penjualan lahan yang dipegang SCS tercatat senilai Rp84,3 miliar, yang merepresentasikan akumulasi penjualan lahan seluas 4,1 hektare.

Sementara itu dari lini segmen konstruksi yang dijalankan melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA), perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,70 triliun, atau berada di posisi yang relatif stabil jika dibandingkan dengan perolehan Rp1,70 triliun pada semester I/2025.

Adapun segmen bisnis perhotelan turut memperlihatkan tren pemulihan dengan perolehan pendapatan mencapai angka Rp471,1 miliar, atau melonjak sebesar 113,3% secara YoY.

Segmen konstruksi juga membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 21,1% YoY menjadi Rp93,2 miliar. Adapun segmen perhotelan masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp83,8 miliar.

Meskipun demikian, besaran kerugian tersebut tercatat telah menyusut sebanyak 20,3% jika dikomparasikan dengan catatan rugi bersih sebesar Rp105,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu, yang merefleksikan berlanjutnya tren pemulihan performa lini bisnis perhotelan milik perseroan.

Bergeser pada tinjauan struktur neraca keuangan, posisi total kas dan setara kas SSIA pada penutupan akhir semester I/2026 tercatat sebesar Rp1,09 triliun, mengalami penurunan tipis 4,2% apabila dibandingkan dengan posisi pada akhir kuartal I/2026 yang sebesar Rp1,14 triliun.

Penurunan tersebut utamanya disebabkan oleh adanya alokasi pembayaran beban bunga terkait renovasi hotel Paradisus by Meliá Bali serta pengeluaran belanja modal untuk pengembangan lahan.

Di sisi lain, total kewajiban utang berbunga milik perseroan turun sebesar 3,5% menjadi Rp2,27 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rp2,35 triliun pada kuartal I/2026.

Dengan demikian, rasio perbandingan utang terhadap ekuitas (gearing ratio) berhasil menunjukkan perbaikan ke level yang lebih sehat yakni pada posisi 26,8%, yang merefleksikan struktur permodalan perseroan kian kokoh.

Tags

Terkini