Kredit BNI Tumbuh 24,4 Persen, Laba Tembus Rp10,8 Triliun

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:09:31 WIB
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan kenaikan kredit sebesar 24,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) hingga menembus Rp968,5 triliun. Capaian tersebut mengerek perolehan laba perseroan hingga menyentuh Rp10,8 triliun pada semester I 2026.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyatakan pihaknya terus memperkokoh pondasi bisnis lewat strategi pertumbuhan berorientasi kualitas, pemantapan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital yang berkelanjutan.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Ia memaparkan bahwa arah pengembangan bisnis tersebut berjalan searah dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menfokuskan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Dengan pertumbuhan kredit mencapai 24,4 persen, BNI berhasil menjaga rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) berada di level 1,9 persen.

Di sisi lain, Direktur Keuangan dan Strategi BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan penyaluran kredit tersebut didukung oleh portofolio yang kian terdiversifikasi di bermacam sektor ekonomi dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.

"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cashmanagement, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," kata Paolo.

Menurutnya, pemanduan ekspansi kredit dikerjakan secara cermat dengan memperhitungkan prospek industri dan profil risiko masing-masing debitur demi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.

Ia mengungkapkan strategi intermediasi itu melangkah beriringan dengan penguatan struktur pendanaan. Di tengah persaingan likuiditas yang ketat, dana murah atau current account savings account (CASA) mampu tumbuh 11,2 persen secara tahunan, sehingga rasio CASA terjaga di angka 65,4 persen.

Penguatan struktur pendanaan tersebut turut memacu efisiensi biaya dana, yang terlihat dari penurunan biaya dana untuk dana pihak ketiga menjadi 2,56 persen dibandingkan 2,78 persen pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.

Hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BNI melesat 14,2 persen secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun, sedangkan pendapatan berbasis komisi (fee-based income/FBI) naik 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.

Lonjakan kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) menyentuh Rp18,5 triliun, angka tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

Pada ranah digital, jumlah pengguna aplikasi perbankan wondr by BNI menembus 15,1 juta hingga akhir Juni 2026 dengan volume transaksi melonjak 110 persen secara tahunan.

Adapun pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu dengan volume transaksi naik 17 persen secara tahunan hingga mencapai Rp6.039 triliun.

Perseroan menjalankan program Branch, Region and Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh wilayah operasional guna mengoptimalkan peran kantor cabang sebagai pusat penjualan, mendongkrak produktivitas jaringan, serta memaksimalkan potensi bisnis di tiap-tiap daerah.

Dari aspek kualitas aset, rasio loan at risk (LAR) membaik dari 11 persen menjadi 8,1 persen, sementara rasio NPL tetap stabil di angka 1,9 persen.

Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada menuturkan kualitas aset yang terjaga tersebut merupakan buah dari penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten, mulai dari penentuan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat," ucap David.

Tags

Terkini