Telkom Targetkan Pemisahan Aset Fiber Infranexia Tuntas di II/2026

Selasa, 04 Agustus 2026 | 00:27:01 WIB
Telkom Pacu Pemisahan Aset Fiber Infranexia Tahap II Hingga II/2026 [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) memproyeksikan proses pemisahan aset ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia dapat diselesaikan pada semester II/2026.

Merujuk paparan presentasi korporasi semester I/2026, Selasa (4/8/2026), BUMN telekomunikasi ini telah mengalihkan melampaui 50% aset fiber menuju entitas baru tersebut dalam eksekusi integrasi Tahap-1. Dengan demikian, masih terdapat porsi infrastruktur yang belum dipindahkan.

Infranexia didirikan guna menyatukan sekaligus mengelola infrastruktur jaringan serat optik kepunyaan Telkom Group secara terintegrasi. Pengalihan operasional dan aset strategis dari Telkom kepada anak usaha ini dijalankan bertahap lewat skema pemisahan usaha secara terstruktur.

Sampai tahap yang tengah berjalan, Telkom berhasil memindahkan lebih dari setengah aset jaringan utamanya—yang mencakup jaringan access, aggregation, hingga backbone—dengan nilai kapitalisasi mencapai Rp35,8 triliun. Adapun akumulasi total aset yang bakal dikelola InfraNexia diperkirakan menembus angka Rp90 triliun.

Pada saat ini, Infranexia mengoperasikan portofolio kabel serat optik backbone, agregasi, dan akses perseroan dengan panjang bentangan jaringan melampaui 211.000 km. Jangkauan tersebut terbagi atas 115.921 km rute domestik serta 95.200 km rute internasional.

Penggabungan jaringan ini memberikan dampak positif terhadap capaian finansial segmen B2B Infra. Pemasukan eksternal unit bisnis ini mencapai Rp4,66 triliun, atau terangkat 4,9% secara year-on-year (YoY). Sementara itu, total pendapatan kotor (gross revenue) melonjak 19,0% YoY menuju Rp33,06 triliun.

Penyatuan infrastruktur pasif ini menjadi ikhtiar strategis Telkom Group dalam memaksimalkan nilai aset jaringan, memacu efisiensi operasional, serta mengokohkan kapabilitas penyediaan koneksi serat optik berkelas dunia.

Pihak manajemen Telkom turut menerapkan penyesuaian nilai awal (right sizing) terhadap aset fiber yang dipindahtangankan dari TLKM HoldCo ke Infranexia. Langkah ini ditempuh demi menjamin daya saing Infranexia di arena pasar infrastruktur digital.

Manajemen menegaskan bahwasanya seluruh rangkaian penyesuaian pembukuan keuangan tersebut tidak membawa imbas terhadap arus kas maupun pembagian dividen perusahaan (no cash & dividend impact).

Langkah revaluasi beserta penyesuaian akuntansi ini menjadi tumpuan strategis guna menyokong percepatan modernisasi jaringan. 

Lewat upaya tersebut, perseroan mampu menggenjot investasi untuk memantapkan mutu layanan, memperbarui topologi jaringan yang usang (obsolete), membentuk total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO) yang lebih hemat, serta mempercepat otomatisasi dan adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Sebelumnya, melalui lini bisnis fiber di bawah naungan InfraNexia, emiten telekomunikasi milik negara ini membidik kenaikan kontribusi pendapatan eksternal dari porsi saat ini sebesar 15% menuju sekurang-kurangnya 25%.

Sinyal positif dari strategi ini mulai terlihat lewat pertumbuhan performa pada kuartal I/2026 yang melampaui raihan kuartal IV/2026.

Direktur Wholesale dan International Service Telkom menjelaskan portofolio pendapatan eksternal perusahaan sejauh ini masih didominasi oleh segmen konsumen (consumer) dan korporasi (enterprise).

 Sebaliknya, transaksi di sektor infrastruktur sebelumnya lebih banyak bersifat internal grup. Pembentukan InfraNexia dirancang khusus memberikan fleksibilitas (agility) dalam melejitkan nilai komersial aset jaringan di pasar luar Telkom Grup.

"Saat ini basis fiber kami kontribusi external revenue-nya baru sekitar 15%. Ini yang mau kami dorong kontribusinya paling tidak menjadi minimum 25 %," kata Budi di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Indikator keberhasilan transformasi ini mulai terlihat setelah perusahaan mengeksekusi pemisahan usaha (spin-off) tahap pertama untuk aset-aset infrastruktur ke InfraNexia yang efektif berjalan sejak Januari 2026.

 Manajemen mencatat perbandingan performa pada kuartal I/2026 terhadap kuartal IV/2026 menunjukkan basis bisnis fiber mampu tumbuh signifikan di atas 15 persen. Awal yang positif ini menjadi modal bagi perseroan untuk terus melakukan penetrasi pasar eksternal secara berkelanjutan.

Di samping InfraNexia, penopang pendapatan eksternal Telkom bersumber dari segmen bisnis internasional yang mana porsi mayoritasnya, atau berkisar 90%, berasal dari luar grup.

 Lini internasional ini sekaligus menjadi instrumen penyeimbang bagi perseroan karena seluruh pendapatannya mengacu pada denominasi dolar AS, kendati struktur biayanya juga berbasis valuta asing.

Tags

Terkini