Bappenas: El Nino Ancam Padi dan Sawit, Dongkrak Garam dan PLTS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:47:31 WIB
El Nino Ancam Komoditas Pangan, Bappenas Ungkap Peluang EBT dan Garam [FOTO: NET].

JAKARTA — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengutarakan bahwa fenomena El Nino berpotensi mendongkrak produksi garam serta mengoptimalkan daya listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), kendati pada saat bersamaan berisiko menekan produktivitas padi, kelapa sawit, dan kopi.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi menyampaikan bahwa pihak pemerintah menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beserta jajaran kementerian dan lembaga untuk menyusun policy brief guna mendeteksi dampak El Nino, termasuk peluang yang sanggup dimaksimalkan di pelbagai sektor.

Berdasarkan profil dampaknya, Bappenas memetakan pengaruh El Nino kategori kuat ke dalam empat kluster utama, yakni sektor hutan, lahan, dan pertanian; energi dan sumber daya air; kesehatan; serta pangan akuatik.

Pada sektor hutan, lahan, dan pertanian, El Nino kuat diproyeksikan memicu lonjakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus memangkas hasil produktivitas sejumlah komoditas perkebunan dan pangan, layaknya padi, kelapa sawit, hingga kopi.

“Kalau di pertanian [dampak El Nino] terhadap produktivitas padi, kelapa sawit, kopi, juga tentunya ada risiko gagal panen dan juga gangguan terhadap organisme pengganggu tanaman,” ujar Nizhar dalam Dialog Nasional bertajuk Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026).

Namun, di balik rentetan risiko tersebut, Bappenas melihat adanya celah peluang guna menggenjot produksi komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi gersang, seperti tanaman palawija, hortikultura, serta tebu.

Sementara itu, pada sektor energi dan sumber daya air, El Nino diprediksi memicu penurunan ketersediaan air yang berimbas pada merosotnya pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) maupun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

Kendati demikian, ia menilai kondisi cuaca yang lebih kering disertai tingginya intensitas pancaran sinar matahari sanggup dimanfaatkan guna mengoptimalkan pasokan energi baru terbarukan lewat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), termasuk PLTS atap.

“Dengan makin berkurangnya tutupan awan yang biasanya menutupi PLTS ini bisa menjadi salah satu peluang kami untuk mengoptimalkan produksi listrik dan PLTS pada saat El Nino ini kami alami, karena memang tutupan awan berkurang, dan juga intensitas sinar matahari lebih tinggi,” terangnya.

Dari sudut pandang kesehatan publik, El Nino kuat diproyeksikan mengerek risiko kemunculan beragam penyakit yang sensitif terhadap pergeseran iklim. Deretan penyakit tersebut mencakup demam berdarah dengue (DBD), malaria, pneumonia, hingga diare yang berisiko melonjak seiring perubahan kondisi lingkungan serta cuaca ekstrem.

Adapun pada sektor pangan akuatik, fenomena El Nino diperkirakan menekan produktivitas perikanan budidaya, seperti ikan lele, nila, udang payau, dan rumput laut dipicu pergeseran kualitas maupun ketersediaan air.

Lebih jauh, Bappenas menilai terdapat peluang peningkatan pada hasil perikanan tangkap, terkhusus komoditas cakalang, tuna, dan tongkol, serta lonjakan produksi garam lantaran musim kemarau yang makin panjang disertai tingkat penguapan yang lebih tinggi.

“Juga dengan kondisi yang lebih kering ini mendukung peningkatan produksi garam karena proses evaporasinya lebih optimal,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengutarakan bahwasanya El Nino tidak melulu mendatangkan dampak negatif. Pada beberapa sektor, dinamika tersebut justru sanggup melahirkan peluang apabila dikelola secara presisi.

“El Nino ini tidak hanya serta-merta satu hal yang negatif, ada hal positif. Contoh sebetulnya seperti produktivitas garam. Garam ini juga akan lebih dioptimalkan, dan juga untuk potensi penangkapan ikan. Jadi ada fenomena di bulan upwelling yang dapat meningkatkan produktivitas ikan. Jadi hal positif pun juga kami bisa raih di fase El Nino ini,” jelas Andri.

Menatap ke depan, Andri membeberkan bahwa BMKG bakal menggembleng sistem pemantauan meteorologi kelautan secara real time guna menopang deteksi dini atas dinamika suhu permukaan laut yang berkaitan dengan fenomena El Nino.

“BMKG mengembangkan sistem pemantauan meteorologi di laut yang lebih komprehensif real time, sehingga informasi dapat dianalisis lebih lanjut untuk memberikan warning secara akurat, tepat, dan dapat dioptimalkan untuk berbagai sektor,” pungkasnya.

Tags

Terkini