Bahlil Sebut Groundbreaking Perdana Proyek PLTS 100 GW Digelar di Bali

Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:12:01 WIB
Dipimpin Prabowo, Groundbreaking Perdana PLTS 100 GW Bakal di Bali [FOTO: NET].

JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan bahwa groundbreaking tahap awal proyek pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS 100 GW rencananya bakal dilaksanakan di Bali.

Bahlil menyampaikan, peletakan batu pertama tahap pertama tersebut rencananya bakal dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, Bahlil belum memerinci kepastian tanggal pelaksanaan agenda tersebut.

"Nanti saya lagi usahakan meminta jadwal Bapak Presiden untuk kami peresmian tahap pertama terhadap PLTS 100 gigawatt tahap pertama. Kan kami buat master plan dengan perencanaan. Mungkin kami akan buat di di Bali," ucap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, dikutip Selasa (4/8/2026).

Menyinggung posisi proyek PLTS 100 GW dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025—2034, Bahlil menegaskan seluruh tahapan izin dan regulasi berada penuh di bawah kewenangan Kementerian ESDM. Maka dari itu, ia menjamin seluruh alur aturan bakal dipenuhi sebelum groundbreaking dilaksanakan.

Bahlil sebelumnya menegaskan fase pertama proyek tersebut telah mengantongi persetujuan dan bakal diawali lewat groundbreaking dalam rentang waktu dekat. Ia mengutarakan, agenda percepatan proyek PLTS tersebut sempat dibahas pada rapat terbatas (ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

"Yang kedua, kami juga membahas tentang implementasi daripada PLTS 100 gigawatt yang insyaallah dalam waktu dekat akan ditandai peluncuran groundbreaking pertama," ujar Bahlil.

Menurut penjelasannya, pihak pemerintah telah memberikan hijau pada eksekusi tahap awal proyek sehingga proses pengerjaan dapat segera bergulir.

Kendala Lahan

Pada sisi berbeda, Pemerintah Provinsi Bali mengungkapkan keterbatasan ketersediaan lahan masih bertindak sebagai tantangan utama dalam pengembangan PLTS skala jumbo di kawasan tersebut.

Sekretaris Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali I Gede Ngurah Esa Maha Putra mengutarakan, lahan berukuran melebihi 1 hektare saat ini kian sulit ditemukan. 

Situasi ini turut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah daerah yang berupaya membendung laju alih fungsi lahan produktif demi membentengi ketahanan pangan.

"Jadi selama ini kami sudah menerima audiensi dari investor dalam dan luar negeri yang berminat membangun PLTS. Namun, kendalanya ketersediaan lahan, untuk PLTS 1 MW [megawatt] setara 1 hektare sulit dicapai," ujarnya dalam Indonesia Solar Summit, Rabu (15/7/2026).

Di samping jumlahnya yang terbatas, harga jual tanah di Bali tergolong tinggi sehingga melambungkan estimasi modal investasi awal proyek PLTS. Saat ini, instalasi PLTS terbesar di Bali berlokasi di Kabupaten Karangasem dengan daya 25 megawatt (MW) yang digarap oleh Medco Energy.

Adapun akumulasi kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) di Bali berada di kisaran 45 MW, yang didominasi oleh instalasi PLTS serta pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTMH).

Guna menyiasati keterbatasan lahan, Pemerintah Provinsi Bali mendorong akselerasi PLTS atap pada bangunan perkantoran, hotel, vila, sampai hunian warga. Ngurah membeberkan saat ini terdapat sekitar 600 permohonan pemasangan PLTS di Bali yang dinilai menjadi potensi gurih bagi investor.

"Paling banyak yang mengajukan hotel, restoran, kafe hingga rumah tangga. Ini menjadi peluang bagi investor PLTS," katanya.

Ia mengimbuhkan, saat ini terdapat tujuh proyek PLTS yang tengah berjalan dalam tahap pengerjaan. Rangkaian proyek itu meliputi PLTS Nusa Penida berdaya 4,5 MW, PLTS Rumah Sakit Bali Mandara 700 kilowatt peak (kWp), PLTS Rumah Sakit Mata Bali 300 kWp, PLTS Pasar Galiran Klungkung 900 kWp, PLTS Trans Studio Mall 1 MW, PLTS ground mounted PLN, hingga PLTS UPTD Pengolahan Air Limbah Kementerian PUPR berkapasitas 10 MW.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN, daya PLTS di Bali dipatok mencapai 629,39 MW hingga 2034 mendatang sebagai bagian dari langkah mewujudkan Bali mandiri energi berbasis energi bersih.

Saat ini, kapasitas daya mampu sistem kelistrikan Bali menyentuh kisaran 1.700 MW dengan beban puncak sekitar 1.290 MW pada malam hari, serta cadangan daya tercatat sebesar 226 MW.

Tags

Terkini