Mendag Sebut Perjanjian Dagang Bakal Pacu Minat Masuknya Investasi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 20:01:31 WIB
Mendag Budi Santoso: Perjanjian Perdagangan Tarik Masuk Investasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengutarakan bahwasanya semakin melimpahnya perjanjian perdagangan yang dikantongi Indonesia, sanggup bertindak selaku daya pikat utama bagi masuknya arus investasi.

Menurut penjelasannya, keberadaan perjanjian perdagangan bersama pelbagai negara, seperti dengan Amerika Serikat serta Uni Eropa, menjadikan posisi Indonesia kian memikat bagi para investor dari negara lain yang berhasrat meraih akses pasar yang lebih lapang.

"Jadi perjanjian perdagangan kami yang semakin banyak termasuk dengan Amerika dan nanti dengan EU itu ternyata menarik investasi," katanya usai acara Indonesia-Thailand Business Forum di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Berdasarkan pandangan Budi, negara-negara yang belum mengantongi kesepakatan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat maupun Uni Eropa bakal memandang Indonesia selaku pijakan strategis untuk menembus negara sasaran.

"Karena banyak negara yang belum mempunyai perjanjian perdagangan dengan Amerika, belum mempunyai perjanjian perdagangan dengan EU mereka kan akses pasarnya tidak mudah," jelasnya.

"Makanya kemudian investasi ke Indonesia untuk bisa menembus pasar Eropa, pasar Amerika," katanya lagi.

Lebih jauh, Budi membeberkan bahwasanya pasar Amerika Serikat masih bertengger sebagai salah satu muara ekspor terbesar bagi Indonesia dengan nominal menyentuh sekitar 18,11 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.

"Artinya surplus terbesar kami itu masih ke Amerika, nomor dua India, dan pasar Amerika itu 11,1 persen. Artinya bahwa memang kami sangat membutuhkan pasar Amerika," ujarnya.

Ia menggarisbawahi, kesepakatan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat bertindak selaku peluang raksasa yang mesti dioptimalkan Indonesia, menimbang besarnya potensi pasar di negara tersebut.

"Justru kami harus ada perjanjian dengan Amerika karena pasar kami di sana sangat besar, buktinya surplus 18,11 miliar dolar AS, surplus nomor satu," katanya.

Budi menaruh optimisme bahwa Indonesia tetap sanggup menggenjot kinerja ekspor lewat formula strategi yang presisi dalam merespons dinamika perubahan kondisi global maupun geopolitik. Ia menganggap pergerakan geopolitik mampu mengakselerasi pergeseran pola perdagangan antarnegara.

Ia mengimbuhkan bahwasanya pihak pemerintah pun konsisten mendorong perampungan serangkaian perjanjian perdagangan dengan negara lain, termasuk pada kawasan Timur Tengah, demi memperluas jangkauan akses pasar ekspor Indonesia.

Tags

Terkini

BRMS Raup Penjualan Rp1,71 Triliun, Laba Bersih Terkoreksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 01:28:01 WIB

Faktor Penyebab Mastitis Berulang pada Ibu Menyusui

Selasa, 04 Agustus 2026 | 01:13:32 WIB

Dorong Logistik Hijau, Fuso eCanter Diserahkan ke FLI

Selasa, 04 Agustus 2026 | 01:10:01 WIB