Bahaya FOMO Ikut Olahraga Ekstrem bagi Kesuburan Pria dan Wanita

Kamis, 30 Juli 2026 | 04:34:32 WIB
Jangan FOMO Ikut Olahraga Ekstrem, Bisa Rusak Kesuburan [FOTO: NET].

JAKARTA - Belakangan ini, tren kompetisi kebugaran berintensitas tinggi seperti ajang Hyrox hingga cabang olahraga padel tengah digandrungi masyarakat. Sayangnya, banyak orang justru terjebak dalam pusaran fenomena fear of missing out (FOMO) dan nekat ambil bagian dalam kompetisi fisik tersebut tanpa didukung persiapan yang matang dan terstruktur. Padahal, memforsir tubuh untuk melakoni aktivitas fisik yang melampaui batas kemampuan normal tidak sekadar memicu risiko cedera otot semata. 

Gaya hidup kompetitif yang abai terhadap kapasitas fisik ini rupanya membawa dampak buruk yang sangat fatal bagi stabilitas sistem hormonal serta fungsi reproduksi tubuh.

Bahaya olahraga ekstrem tanpa persiapan bagi kesuburan pria dan wanita

Peradangan akibat overuse turunkan kualitas sperma pria

Kondisi fisik yang dipaksa bekerja secara berlebihan (overuse) pada kaum pria terbukti secara otomatis mengganggu jalannya proses produksi atau pembentukan sperma.

Banyak orang salah kaprah mengira bahwa olahraga yang semakin keras akan berbanding lurus dengan kualitas sperma yang membaik.

“Yang ikut Hyrox itu kan sekali acara dari pagi sampai sore. Ada kardionya, angkat bebannya. Kalau tidak ada persiapan minimal enam bulan pasti akan terjadi badannya overuse,” jelas dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And, dalam sesi diskusi Eka Hospital BSD bersama awak media di Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Selasa (28/7/2026).

Menurut penjelasan dr. Sunnu, aktivitas olahraga ekstrem justru akan memicu eskalasi radikal bebas di dalam tubuh yang bertindak layaknya zat beracun perusak sel sperma.

Di samping itu, cedera fisik yang dibiarkan tanpa penanganan tepat berpotensi bertransformasi menjadi kondisi peradangan kronis. Munculnya inflamasi ini memicu peningkatan suhu panas yang secara langsung merusak fungsi kerja organ buah zakar.

“Namanya peradangan itu kan inflamasi. Itu diambil dari kata flame, api. Jadi peradangan itu selalu menimbulkan panas. Nah panas ini yang akan merusak kondisi buah zakarnya,” ungkap dr. Sunnu.

Organ testis secara biologis memerlukan temperatur suhu dua hingga tiga derajat Celsius di bawah rata-rata suhu keseluruhan tubuh guna memproduksi sperma yang sehat. Tatkala tubuh mengalami kondisi kepanasan, yang kemudian diperparah oleh komplikasi masalah kesehatan penyerta semacam obesitas atau penyakit diabetes, jumlah sel sperma dipastikan akan merosot tajam, pergerakannya melambat, hingga memicu kerusakan pada struktur DNA.

Lonjakan hormon kortisol picu gangguan ovulasi pada wanita

Dampak negatif dari aktivitas fisik yang berlebihan ternyata juga mengintai kalangan perempuan, terutama mereka yang sedang dalam program merencanakan kehamilan. Sesi latihan fisik yang melampaui batas kapasitas normal (excessive training) akan membebani tubuh dengan tingkat stres yang terlampau tinggi.

“Olahraga itu membuat badan kami stres sebetulnya. Kalau olahraganya heboh, stresnya makin tinggi. Sama kayak orang bangun otot. Otot ini kalau enggak dilukai, dia enggak akan tumbuh,” papar dr. Agus Heriyanto Sp.OG, Subsp FER, MARS MM.

Peningkatan status stres pada tubuh tersebut merangsang terjadinya lonjakan hormon kortisol yang secara langsung mengacaukan pulsatilitas gonadotropin, yakni siklus irama pelepasan hormon-hormon reproduksi di dalam tubuh.

Sebagai dampak lanjutannya, terjadilah ketidakseimbangan hormonal yang berujung pada kacaunya siklus menstruasi, atau yang secara medis sering diistilahkan sebagai amenore. Ancaman risiko ini bakal semakin memburuk apabila kaum perempuan yang bersangkutan turut menerapkan metode diet ekstrem demi menurunkan berat badan.

“Ini juga bisa menyebabkan gangguan sel telur yang harusnya tiap bulan netes, dia jadi enggak netes. Jadi sudah kayak mirip orang PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome), enggak haid berbulan-bulan,” terang dr. Agus.

Pentingnya atur zonasi latihan dan tidak memaksakan diri seperti atlet

Membangun ketahanan fisik tidak bisa dicapai secara instan dalam waktu singkat. Dokter Agus memberikan contoh nyata dari persiapan para atlet pelari maraton yang umumnya membutuhkan durasi latihan hingga empat bulan. Mereka diwajibkan memetakan zona tubuh secara disiplin, mulai dari tahapan easy training, interval training, hingga power run, tanpa pernah sembarangan memaksakan target batas maksimal sebelum hari perlombaan tiba.

Sayangnya, prinsip dasar pelatihan yang benar tersebut sering kali diabaikan oleh masyarakat awam yang sekadar ikut-ikutan tren olahraga kekinian seperti padel. Atmosfer kompetitif yang terbangun di dalam komunitas membuat masyarakat umum nekat memforsir diri berlatih fisik setiap harinya demi mengimbangi performa para atlet profesional.

“Pernahlah pasti ngelihatlah, yang di padel deh contohnya, latihan sampai tiap hari mau ngalahin yang jelas-jelas dia atlet. Kamu ini masih kerja, gimana makan kamu diatur, olahraga kamu diatur? Enggak bisa,” tutur dr. Agus.

Ia kembali mengingatkan bahwa pola hidup pekerja kantoran biasa mempunyai perbedaan yang sangat kontras dengan atlet profesional yang seluruh siklus kesehariannya memang telah didedikasikan sepenuhnya untuk mengoptimalkan performa di arena lapangan.

“Kamu mau ngelawan yang jelas-jelas atlet, yang memang dia peringkatnya nasional ataupun internasional. Ya dia bangun tidur sudah diatur untuk setting-annya olahraga. Kan kombinasinya makanan, olahraga, dan istirahat,” pungkas dr. Agus

Terkini