Kenali 7 Penyebab Sulit Memiliki Motivasi Menurut Para Pakar

Kamis, 30 Juli 2026 | 04:20:31 WIB
7 Penyebab Sulit Memiliki Motivasi Menurut Pakar, Takut Dinilai Orang [FOTO: NET].

JAKARTA - Apakah anda pernah merasakan kondisi memiliki setumpuk rencana, namun merasa kesulitan untuk sekadar memulai satu saja di antaranya? Atau mungkin sudah merapikan daftar pekerjaan, tetapi pada akhirnya justru terus menunda-nunda pengerjaannya hingga hari berganti esok? Seorang psikoterapis dari laman Verywell Mind, Amy Morin, LCSW, menerangkan bahwa pemahaman mendalam mengenai akar penyebab pudarnya motivasi merupakan tahap esensial pertama yang harus dilakukan guna mengatasinya.

Menurutnya, rendahnya tingkat motivasi kerap kali menjelma sebagai manifestasi gejala dari persoalan lain yang jauh lebih mendalam, dan bukan berdiri sebagai masalah utamanya.

"Terkadang, tidak adanya motivasi adalah masalahnya. Namun di lain waktu, hal itu hanyalah gejala dari masalah yang lebih besar," tulis Morin dalam Verywell Mind, dikutip Kamis (30/7/2026).

Lantas, apa saja faktor-faktor yang menjadi pemicu seseorang merasa kesulitan untuk memunculkan motivasi?

Penyebab seseorang sulit memiliki motivasi

Ingin menghindari rasa tidak nyaman

Sebagai contoh, seseorang sering kali enggan menyentuh suatu tugas tertentu lantaran dihinggapi rasa takut akan merasa bosan, frustrasi, ataupun kewalahan menghadapinya. Sebagai kompensasi, organ otak justru cenderung mengarahkan individu untuk memilih jenis aktivitas instan yang menawarkan kepuasan seketika, seperti asyik bermain media sosial atau menonton tayangan video.

Menurut pemaparan Morin, kecenderungan untuk selalu menghindari rasa tidak nyaman semacam ini berpotensi memicu seseorang terjebak dalam lingkaran penundaan pekerjaan yang berkelanjutan, sehingga level motivasinya merosot semakin tajam.

Kurang percaya diri

Keragu-raguan yang mendalam terhadap kapasitas diri sendiri turut menjadi hambatan yang membuat seseorang merasa gamang saat hendak mengambil langkah awal. Morin merekomendasikan agar individu mulai berani menantang dan mendebat pola pikir negatif tersebut dengan cara mencari bukti-bukti nyata yang menunjukkan bahwa dirinya sesungguhnya memiliki kapabilitas untuk merampungkan tugas yang sedang dihadapi.

Terlalu banyak beban

Agenda kegiatan yang terlalu padat, tumpukan pekerjaan yang menggunung, hingga kewajiban memegang berbagai tanggung jawab secara bersamaan dapat memicu seseorang mengalami rasa kewalahan (overwhelmed). Tatkala seluruh tugas menuntut penyelesaian yang mendesak, individu justru kehilangan arah untuk menentukan urutan skala prioritas. Situasi pelik ini terbukti mampu menguras cadangan energi mental sekaligus meredupkan motivasi secara perlahan.

Tidak benar-benar berkomitmen pada tujuan

Terkadang dijumpai kondisi di mana seseorang menetapkan target pencapaian hidup semata-mata karena terdorong oleh tren sesaat, tekanan lingkungan sosial, ataupun keinginan untuk menuruti ekspektasi pihak lain. Apabila tujuan akhir tersebut tidak memiliki resonansi makna secara personal bagi dirinya, maka tingkat motivasi biasanya akan sangat mudah luntur tatkala berbenturan dengan rintangan pertama.

Perfeksionisme

Sikap perfeksionisme selama ini kerap kali disalahpahami sebagai salah satu karakter sifat yang positif. Namun, di balik topeng tersebut, hasrat yang terlampau tinggi untuk selalu menciptakan hasil karya yang sempurna justru bisa menjadi bumerang yang membuat seseorang merasa ciut dan enggan memulai pekerjaan. Morin menjelaskan bahwa individu dengan sifat perfeksionis biasanya diliputi rasa takut luar biasa jika nantinya hasil kerja mereka meleset dari standar ekspektasi.

Dampaknya, penyelesaian tugas terus-menerus ditunda hingga pada akhirnya pekerjaan tersebut terbengkalai dan tidak pernah benar-benar dikerjakan.

Takut dinilai orang lain

Adanya rasa cemas berlebihan terhadap sudut pandang atau penilaian negatif dari orang sekitar juga terbukti ampuh membunuh motivasi. Seseorang sebenarnya bisa jadi memiliki gagasan cemerlang atau keterampilan yang mumpuni, tetapi memilih untuk pasif dan tidak mengambil tindakan apa pun karena dihantui kekhawatiran bakal dicap gagal, dikritik pedas, atau dianggap kurang kompeten.

Rintangan psikologis berupa ketakutan ini secara nyata mampu mereduksi keberanian seseorang untuk bereksperimen dengan hal-hal baru maupun mengambil peluang berharga yang sebenarnya mendatangkan banyak manfaat.

Selalu ingin menyenangkan semua orang

Dorongan internal yang terlalu kuat untuk terus menerus mengakomodasi harapan orang lain atau yang lazim disebut sebagai mentalitas people pleasing ternyata juga menjadi salah satu faktor utama penguras tenaga. Ketika seseorang terlampau fokus memikirkan kebahagiaan orang lain, mereka sering kali lupa dan mengabaikan kebutuhan serta target personalnya sendiri. Lambat laun, greget motivasi untuk mengejar apa yang sungguh-sungguh dicita-citakan akan mengalami penurunan drastis.

Cara mengatasi kurangnya motivasi

Meskipun fase hilangnya motivasi merupakan sebuah kewajaran yang pasti pernah dialami oleh setiap manusia, terdapat sejumlah langkah aplikatif yang bisa ditempuh guna membangkitkan kembali semangat tersebut.

Mulai bertindak meski belum termotivasi

Lawan pikiran negatif

Bersikap lebih ramah pada diri sendiri

Mulai pekerjaan selama 10 menit terlebih dahulu

Berjalan di ruang terbuka hijau

Susun kembali daftar pekerjaan

Jaga kesehatan fisik

Beri penghargaan pada diri sendiri

Melalui pemahaman yang komprehensif terhadap akar pemicunya serta keberanian untuk mengaplikasikan langkah-langkah penanganan yang berskala kecil, seseorang lambat laun akan mampu memulihkan kembali motivasi dalam dirinya. Kendati demikian, apabila kondisi kelesuan tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang panjang dan mulai merusak kualitas rutinitas sehari-hari, jangan pernah ragu untuk segera mencari uluran tangan profesional demi memperoleh intervensi penanganan yang tepat.

Terkini