Permintaan Global Melemah, Harga Kelapa di Inhil Turun Saat Panen

Kamis, 30 Juli 2026 | 23:51:01 WIB
Pemprov Riau Ungkap Penyebab Anjloknya Harga Kelapa di Inhil [FOTO: NET].

JAKARTA - Jajaran Pemerintah Provinsi Riau menyatakan bahwa lesunya tingkat permintaan dari pasar global menjadi salah satu faktor utama yang memicu merosotnya harga komoditas kelapa di wilayah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). 

Situasi pelik tersebut kian diperparah dengan kondisi lonjakan produksi buah kelapa seiring masuknya masa musim panen, sehingga volume pasokan di tingkat lokal melimpah ruah sementara daya serap pasar belum berjalan secara optimal.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriyadi, menjelaskan bahwa penurunan harga kelapa yang terjadi saat ini tidak semata-mata diakibatkan oleh dinamika di lingkup lokal saja, melainkan turut dipengaruhi oleh perlambatan permintaan terhadap produk olahan kelapa berserta turunannya di kancah perdagangan internasional.

"Ada beberapa penyebab harga kelapa turun. Saat ini permintaan produk hasil kelapa dan turunannya sedang menurun di pasar global sehingga antrean bahan baku di Sambu juga sedang ramai. Penjualan ke Malaysia melalui kapal juga sedang sepi," kata Supriyadi, Rabu (29/7/2026).

Merujuk pada penjelasannya, kelesuan serapan pasar tersebut berdampak langsung pada terjadinya penumpukan volume pasokan buah yang masuk ke sentra-sentra industri pengolahan.

Saat ini, kisaran harga jual kelapa jambul yang diekspor menuju negara Malaysia berada di level Rp1.700 per kilogram, sementara besaran harga pembelian di PT Pulau Sambu tercatat berada di kisaran angka Rp1.900 per kilogram untuk jenis kelapa jambul serta menyentuh level Rp2.200 per kilogram untuk jenis kelapa licin.

Di sisi lain, tingkat produktivitas hasil panen kelapa dari lahan perkebunan milik warga petani justru menunjukkan tren peningkatan yang signifikan seiring berjalannya musim panen raya.

Supriyadi memaparkan bahwa limpahan hasil panen yang memuaskan tersebut turut ditopang oleh kondisi infrastruktur penunjang perkebunan yang kian membaik, serta faktor cuaca yang masih sangat bersahabat bagi kelangsungan aktivitas budidaya pertanian.

"Sekarang sedang musim panen dan hasilnya juga bagus. Ini merupakan dampak dari perbaikan infrastruktur. Air pasang belum terlalu tinggi dan curah hujan juga masih normal sehingga produksi buah meningkat," ujarnya.

Pihak Pemprov Riau, imbuh Supriyadi, telah mengambil langkah proaktif dengan meminta konfirmasi serta penjelasan secara langsung kepada manajemen PT Pulau Sambu guna memantau situasi riil di pasaran.

Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, pihak perusahaan pengolahan mengonfirmasi bahwa tingkat permintaan pasar saat ini memang terpantau masih cenderung landai, sementara volume pasokan buah yang dikirim masuk ke area pabrik sedang berada dalam jumlah yang sangat tinggi.

"Kami sudah berkomunikasi dengan pihak Sambu. Mereka menyampaikan bahwa permintaan memang relatif landai, sedangkan buah yang masuk ke pabrik sedang banyak," katanya. (Catatan: kalimat kutipan disesuaikan dengan ketentuan kata ganti): "Kami sudah berkomunikasi dengan pihak Sambu. Mereka menyampaikan bahwa permintaan memang relatif landai, sedangkan buah yang masuk ke pabrik sedang banyak," katanya.

Sebagai upaya responsif dalam menghadapi tantangan tersebut, jajaran Pemprov Riau menyatakan tengah merancang dan mempersiapkan berbagai strategi kebijakan jangka panjang yang bertujuan untuk memperkuat posisi tawar para petani kelapa lokal.

Salah satu opsi konkret yang digagas adalah melalui pengajuan usulan pembentukan regulasi penetapan harga yang ideal, serta mengakselerasi program hilirisasi produk industri kelapa agar komoditas andalan tersebut memiliki nilai tambah yang tinggi serta jangkauan pasar yang jauh lebih kokoh di masa mendatang.

Terkini