JAKARTA - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menegaskan bahwa produk turunan kelapa sawit telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Komoditas ini tidak cuma dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak goreng serta biodiesel, melainkan juga digunakan dalam produk kosmetik sampai beraneka ragam kebutuhan industri.
Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko BPDP Zaid Burhan Ibrahim menyampaikan, masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa banyak produk yang dipakai saban hari mengandung turunan kelapa sawit.
- Baca Juga Update Harga Pangan 30 Juli:
"Jadi kalau kami perhatikan sawit ini 24 jam secara tidak kami sadari ada dalam kehidupan kami semua. Ada yang sudah jadi kosmetik, kalau yang suka bersolek tidak sadar itu ada unsur sawitnya juga, ada yang sudah jadi bahan bakar, ada yang sudah jadi minyak goreng, dan lain sebagainya," kata Zaid dalam Media Briefing "Industri Sawit yang Berkelanjutan" di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026) seperti dikutip dari Antara.
Menurut penjelasannya, pemanfaatan kelapa sawit turut mencakup limbah hasil pengolahan yang diolah menjadi aneka produk bernilai tambah, seperti helm, kain batik, hingga rompi antipeluru.
Produktivitas kelapa sawit paling tinggi
Zaid menerangkan, kelapa sawit mengantongi keunggulan dibanding komoditas minyak nabati lainnya lantaran mampu memproduksi sekitar 4 ton minyak per hektar.
Produktivitas tersebut terhitung jauh lebih tinggi ketimbang kedelai yang cuma menghasilkan sekitar 0,4 ton per hektare, bunga matahari berkisar 0,6 ton per hektare, maupun tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
"Inilah mengapa sawit sering disebut the most land efficient vegetable oil crop (tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien dalam penggunaan lahan). Oil crop artinya apa? Jika dunia membutuhkan minyak nabati dengan jumlah yang sama tetapi tanpa sawit, maka lahan yang dibutuhkan akan lebih luas," ungkap Zaid.
Berdasarkan pandangannya, tingginya produktivitas tersebut membuat kelapa sawit sanggup memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia dengan penggunaan lahan yang terhitung lebih efisien dibanding komoditas lainnya.
Sawit jadi penyumbang devisa dan PDB
Zaid menuturkan, industri kelapa sawit turut menjadi salah satu penopang utama roda perekonomian Indonesia. Nilai ekspor komoditas ini menembus angka lebih dari 20 miliar dollar AS per tahun sehingga bertindak selaku salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara.
Ia menambahkan, struktur ekspor sawit Indonesia saat ini juga mengalami pergeseran. Sekitar 80 persen ekspor telah berwujud produk hilir, bukan lagi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), sehingga menyuntikkan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional.
Selain itu, sektor perkebunan, termasuk kelapa sawit, menyalurkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
"Selain memberikan devisa, sektor perkebunan juga memberikan kontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional. Tahun 2025, sektor perkebunan memberikan kontribusi sekitar 4,56 persen terhadap PDB Indonesia, sekaligus menjadi bagian penting dari sektor pertanian yang merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional," ujar Zaid.