Kemenko Perekonomian: Bank Emas Nasional Himpun 153 Ton Emas

Selasa, 14 Juli 2026 | 17:14:01 WIB
Ekosistem Bullion Bank Nasional Sukses Himpun 153 Ton Emas [FOTO: NET].

JAKARTA - Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, mengumumkan bahwa ekosistem bullion atau bank emas nasional sukses mengumpulkan sekitar 153 ton emas semenjak dirilis pada Februari 2025.

"Sejak 20 Februari 2025 kami sudah mengakumulasi total emas, baik di Pegadaian maupun Bank Syariah Indonesia, sekitar 153 ton. Ini satu hal yang juga terus akan kami kembangkan," kata Ferry dalam Risk and Governance Summit 2026 di Jakarta, Selasa (14/07/2026).

Menurutnya, ekspansi ekosistem bullion ini merupakan bagian dari langkah pemerintah guna memperluas pasar keuangan sekaligus mengokohkan ketahanan ekonomi nasional di tengah tensi ketidakpastian global yang kian menanjak.

Ferry mengutarakan bahwa pemerintah secara berkesinambungan menempuh aneka reformasi pada sektor keuangan demi merawat keyakinan para penanam modal, di antaranya lewat pengokohan tata kelola pasar keuangan, peningkatan aspek keterbukaan, serta pendalaman pasar keuangan dalam negeri.

Di samping itu, pemerintah berkolaborasi dengan Bank Indonesia pun tiada henti memperlebar penerapan transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency transaction/LCT) bersama sejumlah negara rekan dagang guna menekan ketergantungan terhadap valuta asing.

Semenjak digulirkan pada tahun 2018 silam, skema LCT ini telah diterapkan bersama enam negara mitra utama, meliputi Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, serta Uni Emirat Arab.

Pada bidang pembiayaan, Ferry memaparkan bahwa pihak pemerintah mengalokasikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan nilai total Rp340 triliun demi menyokong laju ekonomi, membuka lapangan pekerjaan baru, sekaligus mengasistensi sektor-sektor produktif.

Ferry mengimbuhkan, pemerintah juga terus menata sistem ekspor komoditas alam lewat pembenahan regulasi devisa hasil ekspor (DHE) demi mengatrol transparansi, mengantisipasi celah manipulasi harga (under invoicing) serta pengalihan laba (transfer pricing), hingga memaksimalkan nilai tambah dari kekayaan alam tanah air.

Ia mengemukakan bahwa sejumlah instansi internasional pun tetap menyematkan prospek positif pada iklim perekonomian Indonesia.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Indonesia sanggup tumbuh di angka 5 persen pada tahun 2026, sedangkan Asian Development Bank (ADB) masih mematok estimasi pertumbuhan pada level 5,2 persen.

Terkini